Cerita Ngentot 2015 : Temanku Hipersex

Cerita Ngentot 2015 : Temanku Hipersex Cersex Cerita Sex 2015, Cerita Ngentot Sex Terbaru 2015, Cerita Dewasa, Cerita Mesum – Cerita Sex: Temanku hipersex – “Telepon yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan ulangi beberapa menit lagi”. Begitu yang kudengar setiap kupencet namanya pada memori HPku. Lagi ada di mana si penjahat sex itu sampai HP nya dimatikan? Aku sampai lupa meminum es jus dan menyantap pisang keju yang terhidang di mejaku karena terus mencoba menghubungi Roni, temanku.

cerita ngentot 2015
Cerita Sex: Temanku hipersex

“Tumben sendirian. Biasanya sama Roni,” kata Bu Tiwi, pemilik kantin.

“Iya ni Bu, HPnya dimatikan. Nggak bisa dihubungi dari tadi,” ujarku setelah menghirup es juice yang terhidang dan mengunyah pisang keju. Sebenarnya telah hilang selera makanku pada makananan dan minuman favoritku itu karena tak berhasil menghubungi Roni.

“Kalau mau datang ke pesantren kilat bareng mestinya janjian dulu. Jadi nggak manyun begitu,” ujar Bu Tiwi lagi sambil melayani pembeli yang lain.

Bener juga omongan Bu Tiwi. Ini emang salahku. Semestinya, semalam atau tadi sebelum berangkat kontak Roni dulu hingga bisa janjian. Kalau sudah begini, aku yang repot. Mau ngikut pesantren udah kesiangan dan pasti pintu pagar udah ditutup sementara Roni tidak bisa dihubungi. Atau bisa jadi ia berangkat tanpa bawa HP.

Gagasan untuk ngikut pesantren kilat ini memang murni ide kita daripada nganggur mendingan ngikut and bisa kenalan ma cewe-cewe pengajar yang katanya dari universitas muslim, katanya kakak-kakak pengajarnya banyak yang cantik-cantik. Lagian ada juga yang ngikut dari sekolah laen. Sewaktu mau berangkat, Rizal, temanku yang lain datang ke rumah dan meminjamkan sejumlah VCD porno yang pernah ia janjikan dahulu. Lalu muncul gagasan untuk membolos dan nonton bareng Roni di rumahnya. Aku yakin Roni pasti tak menolak. Karena seperti kata Rizal diantara film-film yang dipinjamkan, ada yang bercerita tentang hubungan seks antara seorang anak laki-laki dengan ibunya.

Thema seperti itu, atau setidaknya yang menggambarkan hubungan seks antara pria muda dengan wanita yang lebih dewasa bahkan yang lebih pantas menjadi ibunya, adalah yang sangat digemari Roni. Bahkan dalam pengalaman nyata, seperti pengakuan dan cerita Roni, ia sering menyetubuhi pembantunya, wanita yang telah berusia 43 tahun. Roni juga mengaku sering terangsang saat mengintip ibunya sendiri yang tengah telanjang. Itulah kenapa aku sering menyebutnya sebagai penjahat seks.

Di luar itu Roni juga yang mengajari dan memperkenalkanku pada kebiasaan onani. Menurutnya, aku tergolong pria puritan karena hingga berumur 18 tahun belum tahu dan tidak pernah melakukan onani. Dan ketika ia menggagas untuk membuat lubang rahasia untuk mengintip aktivitas ibuku dari kamarku yang memang bersebelahan dengan kamar ibu, aku tak kuasa menolaknya.

Menurut Roni, tubuh ibuku sangat menggairahkan dan merangsang. Sama seperti tubuh ibunya yang memang usianya tak jauh berbeda karena usia ibu 47 sedang ibunya Roni lebih muda setahun. Dan seperti ibunya Roni, ibuku juga sudah menjanda cukup lama. Hanya Roni punya kakak perempuan yang sudah menikah dan hidup terpisah. Sedangkan aku, anak tunggal dan hanya hidup berdua dengan ibu sejak kecil. Bahkan konon, sebenarnya aku bukan anak ayahku yang meninggal saat usiaku masih balita. Tapi buah perselingkuhan ibu dengan pemuda tetangganya setelah menikah cukup lama dan tidak punya anak. Aku gak terlalu percaya ma omongan itu karena keluargaku adalah keluarga muslim yang taat, ibuku saja sudah lama memakai jilbab begitu juga denga ibunya Roni, kita jadi dekat dari kecil karena ibuku dan ibunya Roni sama-sama ngikut pengajian di tempat yang sama, buat ngisi kesibukan dan nambah kenalan juga kekayaan batin gitu alasan ibuku. Tapi memang si Roni lebih nekat dariku, kita sama-sama penasaran ama body perempuan-perempuan berjilbab, sapa tahu korengan kali,ha..ha..

“Sam memek ibumu besar dan membusung banget. Mau deh aku menjilati lubangnya. Ah, pasti enak banget kalau dientotin,” ujar Roni berbisik ketika ia menginap di kamarku suatu malam dan mengintip ke kamar ibu dari lubang rahasia yang kami buat. Saat itu, ibu tidur mengangkang tanpa mengenakan celana dalam dan dasternya tersingkap.

Malam itu Roni memuaskan diri beronani sambil sambil mengintip dan membayangkan menyetubuhi ibuku. Dan lucunya, aku juga melakukan yang sama. Hanya aku melakukan secara diam-diam setelah Roni tertidur pulas. Benar seperti kata Roni, wanita seusia ibu memang lebih matang dan merangsang. Sejak itu, aku sering mengintip ke kamar ibu di saat terangsang dan hendak beronani. Aku juga ingin merasakan nikmatnya bersetubuh dengan ibu kendati sejauh ini belum pernah melakukan sekali pun dengan wanita lain.

Satu jam lebih duduk tercenung sendiri di kantin Bu Tiwi akhirnya membuatku jenuh. Setelah sekali lagi mencoba menghubungi HP Roni tak tersambung, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Paling ibu sudah berangkat ke Puskesmas tempatnya bekerja hingga nggak bakalan tahu kalau aku gak jadi ngikut, pikirku. Setelah membayar makanan, aku langsung keluar dan menyetop angkutan kota yang rutenya melewati jalur jalan dekat rumah. Motor memang sengaja tak kubawa karena tadinya berniat membolos dengan Roni.

Sampai di rumah, seperti biasa aku masuk lewat pintu belakang. Kunci rumah bagian depan memang selalu dibawa oleh ibu karena dia yang berangkat belakangan setiap hari. Aku membawa kunci pintu belakang agar tak repot mampir ke kantor ibu untuk mengambil kunci saat pulang sekolah.

Namun di dalam, saat masuk ke ruang tengah, aku dibuat kaget. sepeda motor Roni ada di sana terparkir di dekat motorku. Sementara tas hitam yang biasa dibawa ibu ke kantor teronggok di atas meja makan. Jadi ibu belum berangkat? Dan kenapa motor Roni ada di sini? Aku jadi curiga. Jangan-jangan Roni juga ada di sini dan lagi berdua dengan ibuku di kamarnya. Memikirkan kemungkinan itu, kuperlambat jalanku. Dengan berjingkat kumasuki kamarku sendiri. Setelah mengunci pintu kamar dari dalam, langsung kutuju lubang rahasia yang biasa kugunakan untuk mengintip ke kamar ibu.Cerita Sex 2015

Dugaanku tidak meleset. Roni ada di kamar itu berdua dengan ibuku. Di atas ranjang besar tempat tidur ibu, keduanya tengah melakukan perbuatan yang selayaknya tidak pantas dilakukan. Kulihat Ibu sudah tidak berpakaian, tapi masih mengenakan jilbabnya, seragam putih panjang khas puskesmas sudah teronggokdi lantai dan satu-satunya penutup tubuh yang dikenakan hanya celana dalam warna hitam, duduk menyandar di dinding kamar. Ia terlihat sangat menikmati apa yang tengah dilakukan Roni pada dirinya. Ya Roni menghisapi salah satu pentil susu ibu di bagian kiri dengan mulutnya. Sementara payudaranya yang sebelah kanan, sesekali dibelai dan diremas gemas oleh pemuda teman akrab dan kawan sekolahku itu.

Seperti bayi yang kehausan, Roni menetek dengan lahap di payudara ibu yang besar, 36B, kutahu waktu kulihat di jemuran dulu. Pasti hisapannya sangat kuat pada puting susu ibu yang coklat kehitaman hingga ibu tampak menggelinjang menahan nikmat. Terlebih tangan Roni juga tak mau berhenti meremasi buah dadanya yang lain sambil sesekali memilin putingnya. “Ah… ah.. terus hisap Ron, ah enak banget. Tetek tante enak banget kamu begitukan Ron, ah.. sshh…ahh …aaahhh,” suara ibu terdengar mengerang dan melenguh menahan nikmat.

Mungkin seharusnya aku merasa jengah atau stidaknya memprotes atas apa yang tengah dilakukan Roni pada ibuku. Tetapi tidak, aku malah menikmati permainan mereka. Bahkan ingin rasanya aku menggantikan peran Roni. Karena sudah cukup lama aku ingin menyentuh dan menghisap tetek ibu bahkan sekaligus menyetubuhinya. Aku memang sangat terangsang setiap mengintip dan mendapati ibu tengah telanjang. Hanya selama ini aku hanya bisa menyetubuhi dalam angan-angan yakni beronani sambil membayangkan menyetubuhinya.

Aku makin terangsang ketika Roni mulai menciumi kemaluan ibu dari luar CD hitam yang dikenakannya. Kulihat ujung hidung Roni disentuhkan di bagian tengah memek ibu yang masih tertutup CD. Sesekali Roni juga menggunakan mulutnya untuk mengecup. Ah kenapa Roni tidak segera melepas saja CD hitam itu. Terus terang aku jadi tidak sabar untuk melihat bentuk sejelasnya vagina ibu. Selama ini, setiap mengintip, aku hanya bisa melihatnya sepintas. Kini, dengan posisi duduk mengangkang seperti itu, kalau CD nya dibuka pasti memek ibu bisa terlihat detilnya.

Ternyata harapanku tidak sia-sia. Hanya, bukan Roni yang mengambil insiatif tetapi malah ibuku. “Kamu sudah kangen sama memek tante ya Ron? Tante buka deh celana dalamnya biar kamu bisa melihat sepuasnya atau melakukan apa saja sesuka kamu. Tetapi baju dan celana kamu dibuka juga dong,” kata ibu sambil memelorotkan dan melepas celana dalamnya. Saat ibuku mau melepas jilbabnya ditahan sama Roni, “Jangan dilepas tante, tante lebih cantik kalo pake jilbab, sumpah”, rayu Roni

Dan ibuku senyum-senyum saja mendengar kata-kata Roni, kini ibuku benar-benar telanjang tanpa sehelai benang yang menutupinya setelah CD warna hitamnya dilepas dan dilemparkan sekenanya, hanya jilbab yang masih menutupi kepalanya dan itu membuatku lebih terangsang karena Roni pernah bilang pengen ngentotin cewe yang masih pake jilbab, lebih bikin nafsu katanya dan bener banget karena kurasakan ada sensasi yang luar binasa kalo bisa ngentotin cewe yang masih pake jilbab. Dan yang membuatku kaget, memek ibu yang biasanya terlihat lebat ditumbuhi rambut hitam, telah dicukur gundul. Padahal tiga hari lalu, saat aku mengintipnya dari kamar seusai mandi, vagina ibu masih tertutup oleh kerimbunan rambut hitam keritingnya.

Tetapi memek yang telah tercukur kelimis itu lebih merangsang karena seluruh detilnya jadi terlihat jelas. Dalam posisi duduknya yang mengangkang, kemaluan ibuku membentuk busungan besar yang terbelah di bagian tengahnya. Hanya, bibir bagian luarnya yang berwarna coklat kehitaman terlihat tebal dan berkerut. Kontras dengan warna di bagian dalam yang agak kemerahan. Sedangkan kelentitnya yang berada di ujung celah bagian atas, terlihat cukup besar ukurannya. Mungkin sebesar biji jagung dan tampak mencuat. Ah .. merangsang banget.

Bibir bagian luar memek ibu yang berwarna coklat kehitaman, tebal dan berkerut itu, kemungkinan terbentuk akibat seringnya tergesek kejantanan milik laki-laki. Baik milik almarhum suaminya semasa hidup atau milik ayah kandungku yang menjadi teman selingkuh ibu. Bahkan mungkin kontol beberapa pria lain yang pernah singgah dalam hidupnya karena beberapa tahun lalu sempat pula kudengar kabar ibu ada main dengan salah seorang atasannya hingga sebagai PNS ia sempat dipindahtugaskan ke daerah terpencil selama beberapa waktu.

Roni menghampiri ibuku setelah melepas baju kokonya dan semua yang dikenakannya. Kontolnya tampak tegak mengacung dan keras. Hanya, soal ukuran, kuyakin setingkat di bawah punyaku yang lebih panjang dan besar,palingan Cuma 13 cman dibanding punyaku yang kalo ngaceng banget bisa sampai 17cman. Tadinya kukira Roni akan langsung menindih dan menancapkan rudalnya di memek ibu yang memang telah menunggu untuk disogok.

Namun dengan santai, bak lelaki dewasa yang sudah berpengalaman dengan perempuan, direbahkannya tubuhnya dekat tubuh ibu mengangkang. Posisi kepalanya persis berada diantara kedua paha ibu yang terbuka lebar atau persis berhadapan dengan memek ibuku. Posisi itu dipilihnya, nampaknya agar ia dapat dengan mudah menatapi memek ibuku dari jarak sangat dekat dan sekaligus menyentuhnya.

Ibuku kian membuka lebar kangkangan pahanya ketika tangan Roni mulai menjamah bagian paling sensitif miliknya. Diusap-usapnya bibir luar memek ibu yang tebal dan berkerut dengan telapak tangannya dan sesekali diselipkannya ujung jari tengah tangan Roni ke lubang di antara celahnya. Disentuh sedemikian rupa oleh tangan Roni, terlebih ketika jari tengah teman sekolahku itu menyentuh kelentitnya, mulut ibu mulai mendesis dan melenguh.

Roni tak hanya menggunakan tangan untuk menyentuhnya tetapi mulai menggunakan lidahnya untuk menjilat dan mengkilik lubang kenikmatannya, maka desahan yang keluar berubah menjadi erangan. Bahkan tubuh ibuku terlihat menggelinjang dan tergetar ketika Roni mengecupi dan menghisapi kelentit ibuku. “Aauuw.. oh.. oh.. Ron kamu apakan memek tante. Ssshh.. sshh oh enak banget Ron. Ya.. ya ahh enak banget Ron, terus sayang ya terus aahhh ,” erangnya menahan nikmat.

Suara yang keluar dari mulut ibuku, bukannya membuat Roni menghentikan aksinya. Tetapi malah memberinya semangat untuk membuat aksi jilatan dan hisapan dengan mulutnya lebih efektif. Lidahnya makin dalam dijulurkan ke dalam lubang kemaluan itu dan hisapannya pada kelentit ibu dilakukannya dengan lebih keras dan gemas. Hingga tubuh ibuku berkali-kali meronta dan menggeliat namun terlihat sangat menikmatinya sambil meremas sendiri ujung jilbabnya.Cerita Sex 2015

Puncaknya, Roni tak hanya menjilati lubang memek ibuku. Lidahnya yang kuyakin telah terlatih untuk menjilati lubang kemaluan Bik Suti, wanita yang bekerja sebagai pembantu di rumahnya yang sering diceritakannya, mulai mencari sasaran lain. Itu kuketahui karena setelah ia meremas-remas pantat besar ibuku dan membukanya hingga lubang anusnya terlihat, lidahnya kembali dijulurkan dan diarahkan ke sana. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun ia mulai menyapu-nyapukan lidahnya di lubang anus yang berwarna senada dengan memek ibu yang coklat kehitaman.

Tidak hanya menyapu dan menjilat, lidah Roni pun dicolokkan bagian ujungnya seolah berusaha menerobos ke bagian dalam lubang anus itu. Diperlakukan seperti itu ibu memekik keras menahan nikmat. “Iiiihhhh diapakan lagi tante Ron. Okh.. okh.. sshh… aahh enak banget Ron. Kamu pintar banget sayang. Tante nggak pernah merasakan yang seperti ini,” ungkapnya terbata di sela-sela rintihan dan lenguhan yang keluar dari mulut ibuku.

Mungkin karena sudah tak tahan menahan gairah yang kian memuncak, ibu akhirnya menggeser tubuh. Melepaskan pantatnya dari mulut Roni yang terus mencengkeram menyerang anusnya dengan jilatan lidahnya. Tadinya ibu bermaksud melakukan serangan balik yakni mengerjai kontol Roni dengan mulutnya. Namun Roni memaksa ingin tetap dapat mengerjai bagian bawah tubuh ibu. Hingga akhirnya disepakati untuk melakukan posisi 69 yang memungkinkan keduanya dapat menjilat dan menghisap bagian paling peka milik keduanya.

Dengan posisi merangkak di atas tubuh Roni yang telentang, ibu memulai aksinya dengan melakukan sapuan dan jilatan pada kepala penis Roni yang tegak mengacung. Lalu, dikulum dan dimasukkannya batang penis Roni ke dalam mulutnya sambil dihisap-hisapnya. Merangsang banget, melihat ibuku yang masih berjilbab mengeluar masukkan kontol Roni. Perlakuan serupa dilakukan ibu pada kedua biji pelir kemaluan Roni. Maka kini Roni dibuatnya seperti cacing kepanasan. Tubuh Roni terlihat mengejang. Ia juga mengerang melampiaskan rasa nikmat yang diterimanya dengan meremasi bongkahan pantat besar ibuku.

Menikmati adegan panas yang dilakukan ibu dan Roni dari tempatku mengintip, tanpa sadar aku mengeluarkan sendiri kontolku yang juga telah tegak mengacung dan mulai meremasinya sendiri. Nafasku memburu menahan gairah yang kian membakar. Ah, kapan aku bisa menyentuh dan menikmati keindahan tubuh ibu seperti yang tengah dilakukan Roni saat ini, keluhku membatin. Bahkan sempat pula menyelinap dalam anganku untuk menikmati kehangatan tubuh Tante Romlah, ibunya Roni.

Kocokan pada penisku makin kupercepat ketika adegan di kamar ibu mendekati klimaks. Kulihat ibu telah dalam posisi berjongkok di atas pinggul Roni dan mengarahkan lubang memeknya ke tonggak kontol Roni yang tegak mengacung. Maka ketika pantat ibu diturunkan perlahan, masuk dan amblaslah batang kontol itu ke dalam kehangatan kemaluan ibuku. “Kamu diam saja Ron, kini giliran tante yang memberi kenikmatan,” kata ibu sambil mulai menaik-turunkan pinggulnya.

Tidak hanya gerakan naik turun yang dilakukan ibu di atas tubuh Roni. Sesekali, sambil membenamkan lebih dalam kontol Roni di dalam lubang memeknya, pinggul ibu memutar-mutar sambil meremas-remas rambutnya yang berjilbab sehingga agak longgar juga jilbab ibu dan tangan Roni kadang ikut meremas tetek ibu yang besar itu, hingga keduanya merasakan kenikmatan yang ditimbulkan. “Ah.. sshhh oh.. oh.. memek tante enak banget seperti menghisap. Oh.. oh enak banget tante, ah.. ah punya Roni mau keluar tan, akkhhhh… oouugghhh,”

“Tahan dulu Ron jangan dikeluarkan dulu. Kita ganti posisi ya? Biar keluarnya sama-sama enak,” ujar ibu sambil merubah posisi.

Tanpa menunggu lama, setelah ibu kembali dalam posisi mengangkang, Roni yang terlihat sudah tidak mampu lagi mengontrol gairahnya langsung mengarahkan ujung kontolnya ke lubang memek ibuku. Dan entah disengaja atau karena tak mampu menahan gairah yang menggebu, Roni menurunkan pinggulnya dengan sentakan yang cukup kuat. Akibatnya, di samping batang kemaluan Roni langsung amblas terbenam, ibu jadi memekik tertahan.

“Auw .. pelan-pelan dong sayang,”

“Maaf tente. Habis Roni gemes sih sama memek tante,” kata Roni sambil terus menaik turunkan tubuhnya di atas tubuh ibuku.

Awalnya hanya perlahan. Namun ketika ibu mulai meningkahi dengan menggoyang-goyang memutar pinggulnya, hunjaman kontol Roni di memek ibuku semakin cepat. Akibatnya peluh nampak berleleran pada pasangan berlainan jenis sekaligus berbeda usia cukup jauh yang tengah melampiaskan hasratnya itu. Sesekali tangan Roni kulihat ikut menarik, meremas kuat jilbab ibu, menjamah dan meremasi tetek ibuku yang terguncang-guncang. Memilin-milin putingnya dan juga menghisap dengan mulutnya.

Tenda-tanda keduanya hendak mencapai klimaks terlihat ketika gerakan Roni terlihat kian tidak terkontrol. Begitu pun ibu, goyangan pinggulnya tidak berirama lagi. Puncaknya, keduanya sama-sama memekik dan mengerang dengan tubuh mengejang. “Hhaakh..akkhhh..mmm..ssssstt….. nnhhikkhhmmaaat…… bbhhaannggeetthh…. Rrrhhonn” erang ibuku, “Tante Mmmhhoo ssshhaammmppp….oouugggghhh……” teriak ibuku sambil meremas kuat jilbabnya yang sudah mulai terlepas. “Iiiyyyaahhh… tttthhaannn… ssshhhaaamm…mmaa…aaahhhh……” tukas Roni sambil ngeremes tetek ibu kuat-kuat. Maka jebolah pertahanan Roni, maninya tercurah menyembur di lubang nikmat memek ibuku “Nnnikkhmatt… banget tantee.. haakh..hakh..aaaarrrggghhhh……cccrooottt….crrrooott……sssssttttt…..hhhooookhhhhh….” ceracau Roni. Sedangkan ibuku, puncak orgasmenya ditunjukkan dengan belitan kakinya ke pinggang Roni dibarengi tubuh yang mengejang hebat. “Oookkhhhhh……yyyyaaahhhhh……eemmmmhh……ssssttthhhh…… “

Pagi itu, setelah ibu kembali ke kamar seusai membersihkan diri di kamar mandi, sebenarnya Roni mencoba melakukan pemanasan kembali. Saat ibu berdiri di depan meja rias dan hendak memakai celana dalam, Roni mencegahnya. Ia berjongkok di depannya dan mulai mengecupi memek ibu. Bahkan salah satu kaki ibu diangkatnya dan ditempatkannya di kursi meja rias hingga memudahkannya menjilati memek ibu. Namun kendati ibu terlihat kembali terangsang oleh hisapan mulut Roni pada kelentitnya, ia menolak melanjutkannya lebih jauh.

Menurut ibu, hari ini ada rapat penting di kantornya yang tidak dapat ditinggalkan. Maka Roni terpaksa harus menahan diri untuk kembali melampiaskan gairah mudanya yang masih menggebu. Keduanya meninggalkan rumah setelah berdandan rapi. Sedangkan aku, terpaksa meneruskan onaniku yang belum tuntas sambil membayangkan hangatnya tubuh ibuku.

Bagian II

Sejak peristiwa itu, aku jadi tahu kemana perginya Roni tiap membolos sekolah tanpa mengajakku. Belakangan memang Roni sering membolos tetapi tidak memberitahu dan mengajakku. Rupanya dia punya acara asyik ngentot dengan ibuku. Tetapi yang membuatku kagum dan mengundang rasa ingin tahuku, bagaimana awal mulanya hingga ia bisa berselingkuh dengan ibuku?

Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani. Takut dia jadi tahu bahwa sebenarnya perbuatannya dengan ibuku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi renggang. Lagian terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa bisa menikmati memek ibu. Juga ngentot dengan ibunya Roni yang bodi dan keseksiannya nyaris sama dengan ibuku jadi aku harus membina keakraban dengan Roni. Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Roni.

Belakangan, sejak mengetahui antara ibu dan Roni ada hubungan khusus, aku sering memberi kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa. Saat Roni main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka. Padahal, aku malah ke rumah Roni dengan berpura-pura pada ibunya hendak menemui dia. Hingga belakangan hubunganku dengan ibunya Roni makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Roni di rumahku.

Seperti sore itu, di saat Roni main ke rumah, aku berpura-pura udah janjian dengan teman kampungku untuk menghadiri acara ulang tahun. Padahal aku langsung ke rumah Roni. “Tadi katanya ke rumah kamu Did? Padahal udah dari tadi lho,” kata ibunya Roni saat aku masuk.

Saat membukakan pintu, ibunya Roni rupanya habis mandi. Tubuhnya kelihatan masih basah, terlihat dari baju kurung terusan yang dipakenya, tercetak teteknya yang menggunung. Tetek ibu Roni lebih manteb dari punya ibu, karena keliatan lebih runcing. Tapi jilbab yang dipakenya sudah tampak rapi, keliatan mau pergi. “Hemm…” dengusku agak kesal juga.

Seperti halnya ibuku, ibunya Roni juga berbodi tinggi besar. Pantatnya besar membusung dengan pinggul yang mengundang. Hanya, kulit Tante Romlah (nama ibunya Roni) agak sedikit gelap. Tetapi kesemua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya. Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada dadanya yang agak tercetak dan bagian lain tubuhnya yang mengundang selera, ia seperti tak menghiraukannya.

Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan koran dan majalah yang terserak di ruang tamu. Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang. Betapa tidak, karena baju kurungnya yang lebih mirip kayak daster Cuma ga tipis-tipis banget membuat bongkahan pantat besarnya kini ikut-ikutan tercetak di bajunya dan keliatan ibu Roni belum sempat memakai CD. “Fiuh… sayang mo pergi.., sial” umpatku dalam hati

Kuyakin itu disengaja. Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati koran dan majalah yang dibereskan hanya sedikit. Ah ingin rasanya meremas pantat besar yang menggunung itu. Kalau Roni, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang diinginkan. Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah.

“Eh Did, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya.

“Eee.. ee bi.. bisa tante. Nggak ada acara kok,” kataku agak tergagap.

“Kalau begitu tante ganti baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan.

Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya. Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas. Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Romlah tidak menutup kembali pintu kamarnya. Dengan bertelanjang bulat, karena baju kurungnya tadi telah dilepas, dengan santai ia memilih-milih baju yang hendak dikenakan. Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku.

Bukan hanya pantatnya yang besar membusung. Buah dada Tante Romlah juga besar tapi keliatan kencang dan meruncing, mungkin 36C lah. Putingnya yang berwarna coklat kehitaman, terlihat mencuat. Ah ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Roni pada tetek ibuku. Sebenarnya aku ingin banget melihat bentuk memek Tante Romlah secara jelas. Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya. Tetapi benar seperti kata Roni, tubuh ibunya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita.

Setelah menemukan baju yang dicari dan berniat dipakainya, Tante Romlah berbalik dan memergokiku tengah menatapi tubuh telanjangnya. Tetapi sepertinya ia tidak marah. Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku. Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya.Cerita Sex 2015

Ibunya Roni meski telah bergelar hajah dan setiap keluar rumah selalu membungkus rapat tubuhnya dengan busana muslimah, namun masih menjalankan usaha yang tercela. Di samping bisnisnya sebagai pedagang perhiasan berlian, ia juga meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau rentenir, bahkan temenku Roni sempat beberapa kali memergoki ibunya jalan bareng sama laki-laki di luar. Hanya kalau di rumah, pakaian yang dipakainya agak lebih santai dan lebih tipis, menurutku lebih seperti daster ibu-ibu tetangga cuman lebih panjang dan berlengan dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dilakukan di hadapanku.

Rumah orang yang ditagih Tante Romlah ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Romlah terlihat sangat senang. Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling. Karena takut terjatuh, Tante Romlah membonceng dengan memeluk erat tubuhku.

Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Romlah terasa menekan punggungku. Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya. Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu. Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku. Untung Tante Romlah segera mengingatkannya.

“Did karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa. Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Romlah saat perjalanan hampir sampai rumah.

“Pertanyaan apa Tan?”

“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang kan?” katanya berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya.

Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Aku jadi bingung buat menajawabnya. Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang. Tetapi aku nggak berani takut salah. Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Romlah meraba bagian depan celana dan meraba kontolku yang telah tegang mengacung. “Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras. Pasti karena terangsang membayangkan tetek tante yang menempel di punggungmu kan?”

“I..i.. iya tan,” kataku akhirnya menyerah.

“Nah gitu dong ngaku. Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah. Kalau Roni belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus kontolku.

Penawaran ibunya Roni adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini. Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya. Mudah-mudahan saja Roni belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Romlah untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya. Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh ibuku seperti yang pernah kulihat.

Sampai di rumah, setelah tahu Roni belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu. “Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya.

Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Romlah seperti yang diperintahkannya. Tidak seperti Roni yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan ibuku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi ibuku maupun ibunya Roni. Hingga aku hanya duduk mencenung di ruang tamu menunggu panggilan Tante Romlah.

Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Romlah sendiri yang keluar kamar menemuiku. Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. “Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku.

Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku. Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah. Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Romlah kini benar-benar terpampang di hadapanku. Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat memeknya yang menggunduk. Licin tanpa rambut karena habis dicukur. Dan seperti memek ibuku, bibir luar kemaluannya yang berwarna coklat kehitaman tampak berkerut-kerut.

Seperti kebanyakan wanita seusia dengannya, perut Tante Romlah sedikit membuncit dan ada lipatan-lipatan di sana. Namun buah dadanya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol nampak lebih besar ketimbang milik ibuku. Ibu temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit kemaluannya.

Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba memek Tante Romlah. Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku. “Ayo Did pegang saja. Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” rayu Tante Romlah melihat keraguanku.

Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap memek wanita itu. Permukaannya agak kasar, mungkin karena bulu-bulu rambutnya yang habis dicukur. Sedangkan di bagian tengah, di bagian belahannya, daging kenyal yang berkerut-kerut itu terasa lebih hangat. Aku mengelus dan mengusapnya perlahan. Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah kemaluan Tante Romlah yang sudah lama kudambakan.

Sambil tetap duduk, aku terus merabai memek ibu temanku itu. Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir vaginanya yang berkerut. Lebih hangat dan terasa agak basah. Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya. Namun karena Tante Romlah berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa. Untungnya, Tante Romlah langsung tanggap. Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk.

Dengan posisinya itu, memek ibunya Roni jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Kini bibir kemaluannya tampak terbuka lebar. Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan. Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat. “Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Did. Atau jilati sekalian. Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Romlah lagi.

Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya. Jadilah wajahku langsung menyentuh memeknya karena tarikan Tante Romlah pada kepalaku memang cukup kuat. Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku. Bau yang timbul dari lubang memek ibunya Roni. Bau yang aneh tapi membuatku makin terangsang.

Aku jadi ingat segala yang dilakukan Roni pada memek ibuku. Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir kemaluannya yang berkerut langsung kulahap dan kucerucupi. Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci lubang nikmat Tante Romlah. Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya. Hasilnya, Tante Romlah mulai merintih perlahan. Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di lubang kemaluannya.

“Ahhhh… sssshhhhh … aakkkhh enak banget Did. Terus sayang, aakkkhh .. ya.. ya enaaakhh sayang ahhhhh,” suara Tante Romlah mulai merintih dan mendesis.

Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri buah dadanya. Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang. Itil Tente Romlah tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap. Sementara bongkahan pantat besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku. “Auuww … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh…. sssshhhhh ..oookkkhhhh… enak banget. Kamu pinter banget Did,… aaakkkhhh ….ssshh …aaarrrggghhh,” rintihanya makin menjadi.

Cukup lama aku mengobok-obok memek Tante Romlah dengan mulut dan lidahku. Memeknya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan vaginanya yang mulai keluar. Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya. “Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi.

Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan. Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan. Termasuk celana dalamku juga dilolosinya.”Wow… kontol kamu gede banget Did! Keras banget lagi,” seru Tante Romlah saat melihat kontolku telah terbebas dari pembungkusnya.

Diremas-remas dan dibelainya kontolku, membuatku tambah ngaceng saja dan saat lidahnya mau menyentuh kontolku aku minta Tante Romlah mengenakan jilbabnya lagi, ku bilang rayuan yang sama punyanya Roni, “Tante keliatan cantik kalo masih pakai jilbab” rayuku, sambil senyum-senyum geli ibu Roni memakai jilbabnya kembali dan saat Tante Romlah sibuk memakai jilbabnya, aku gak sabar ngeliat tetek tante yang menganggur, seketika aku jilat-jilat sambil ku hisap pelan putting teteknya bergantian sehingga Tante Romlahpun agak menggelinjang, “Oouukkhh…udah gak sabar ya, lidah kamu pinter juga… eemmmhhh……” desah Tante Romlah.

“Sekarang giliran lidah tante Did” kata tante yang langsung jongkok dan mencaplok kepala kontolku dengan mulut dan lidahnya. “Uuukkhhh…… aaaakhhhhh…..” desahku saat lidah basah tante menyentuh kontolku,hangat banget.
Mulut tante keliatan kesulitan menggelomoh kontolku yang lumayan besar diameternya, tapi meliat mulut tante bekerja keras mengenyot kontolku apalagi dengan masih pakai jilbab membuat aku sangat terangsang karena baru kali ini akau merasakan lidah perempuan menari-nari di kontolku. “ Mulut tante gak muat sayang, panjang dan gedhe banget sih, emm..emm… tapi tante suka banget…” Sambil menghisap, tante juga mengocok-ngocok kontolku hingga makin tambah panjang dan keras saja kontolku. Dengan gemas, tante mengulum juga biji kontolku sambil tangannya tetap mengocok kontolku dengan kencang. “Aaakkhhhh…… eennaakk…banget tante, mulut tante hhaaahh…ngaatthhh banget…oohh” ceracauku merasakan kenyotan mulut Tante Romlah yang luar biasa nikmat, kontolku seperti di sedut-sedut dan pintarnya mulut dan lidah Tante Romlah hanya bermain di kepala kontolku yang notabene itu bagian paling peka di kontol laki-laki sambil tangannya mengocok, meremas dan memilin-milin batang kontolku dengan cepat dan teratur. Aku makin gak tahan dengan perlakuan Tante Romlah tersebut, “Ennakkhh… sssaaayyyhhaaa….. dah gak kuaaat…tttaaann…” teriakku sambil ku remas-remas kepala tante yang berjilbab. “Eemmm….mmmm……. sssllluuurrrpp….slluurrppp….iiyyahh… keluarin di mulut tante aajahh Did, tante pengen banget minumm ppeejuhh kkkaammuu….” Jawab Tante Romlah sambil makin kenceng ngocok dan ngenyotin kontol ku.

Saat kurasakan kenikmatan sudah di ubun-ubun dan aku gak mampu nahan lagi, kutembakkan seluruh maniku ke dalam rongga mulutnya sampai ada 8 kali tembakan tapi yang pertama bercecer di wajah tante sampai jilbabnyapun kena tembakan maniku saking kencengnya, “Aaaaarrggghhhhhh……hhhhaaaaakkkhhhh……cccrrootttt…… issseepp… tttaanttheee….aakkkhhhhh….. crrooott…crrottt…ccrroott……sserrrrr…… ookkhhhh….sssstttt…” teriakku sambil ngeremas jilbab tante dengan kuatnya. Dan Tante Romlahpun mengulum kontolku dengan kuat saat kutembakkan maniku sambil meremas gemas kontolku, “eemmm….eemmmmmmhhh…. sslluurrrppp…. Enak banget pejuh kamu Did… ahhhhhh” desah tante sambil menelan semua maniku, sempat kulihat maniku lumayan banyak di mulutnya.

Sesaat aku merasa lemas banget, sambil mengatur nafas aku tiduran di kasur tante. Ternyata memang luar biasa, bisa ngecrotin maniku di wajah perempuan berjilbab, sensasinya luar biasa. “Kok belum turun-turun juga nih kontol?” kata tante melihat kontolku yang masih lumayan ngaceng walaupun udah ngecrot berulang-ulang. Dan memang kurasakan kontolku masih lumayan keras. “Sekarang, tante pengen ngajak kamu ngerasain kemutan tante yang bawah, mau gak Did” tanya tante manja, membuatku mulai bergairah dan gak sabar pengen bener-bener ngentotin Tante Romlah.

Dibelai dan di elus-elusnya kontolku sesaat. Ia sepertinya mengagumi ukuran kontolku. Lalu ia duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang. Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga memeknya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka. Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar kemaluannya yang berkerut-kerut.

Tante Romlah yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat. Dibimbing tangan wanita itu kontolku diarahkan ke lubang memeknya. “Dorong dan masukkan Did kontolmu. Ih gemes deh, punya kamu besar banget,”.

Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk kontolku ke lubang memeknya. Tapi, “Aaauuww,.. jangan kencang-kencang Did. Bisa jebol nanti memek tante,” pekik Tante Romlah.

Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali kontolku namun dicegah olehnya. “Jangan sayang, jangan ditarik. Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya.

Seperti yang dimintanya, batang kontolku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk. Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan. Hasilnya, bukan cuma Tante Romlah yang terlihat menikmati sodokan kontolku di memeknya. Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan yang sulit kulukiskan.

Terlebih ketika kontolku mulai kukeluarmasukkan ke dalam lubang nikmat itu. Ah, luar biasa nikmat. Jauh lebih enak menikmati kehangatan memek Tante Romlah daripada mulut Tante tadi, kemutannya sangat terasa, peret banget. Bagian dalam dinding memek Tante Romlah seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.

“Ttteeerrrhhhussss…… Did,.. uuukkhhhhh… uuuuukkkhhhh……. kontolmu enak banget. Gede dan marem banget. Aakkhhh iiii…yyyyhhhaaa Diddd, terus sogok memek Tante ssshhayaaannggg. Aaakkkhhhh,.. aaakkkhhhhhh… aaaakkkkhhhh…. Ssshhhhhh……,” Tante Romlah mengerang nikmat.

Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat mengentotinya. Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi memeknya yang tengah diterobosi kontolku. Ternyata, di bibir luar kemaluan Tante Romlah ada sebentuk daging yang menggelambir. Saat batang penisku kudorong masuk, daging menggelambir itu ikut terdorong masuk. Namun saat aku menariknya, bagian tersebut juga ikut keluar. Melihat itu sodokan kontolku pada lubang nikmat wanita itu kian bersemangat.

“Memek Tante nggak enak ya Did? Kok dilihatin begitu?” Kata Tante Romlah. Rupanya ia memperhatikan ulahku.

“Eee. enak bangat Tante. Sungguh. Memek tante bisa meremas. Saya sangat suka,” ujarku tanpa berterus terang perihal bagian daging yang menggelambir dan menarik perhatianku.

“Bener Did? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin terus tante. Tante juga suka banget kontol kamu. Aaaahhh….. ssssskkkhhhhhh… aaaaakkkkhhhhhhh… eeennnaaaaakkkkkhhhhh bangat sayang. Ooouuggghhhhhhh terus Did, aaayyyooo sayang ssssshhhoooo…….gggghhhooookkkkhhh…… teruuuu..ssshhhhh. Aaaaakkkkhhhhhh… aaaahhhhhh …mmmmpphhhh……sssssshhhhhh….aaaakkkhhhhh,” erang nikmat Tante Romlah sampai menggelinjang tak karuan.

Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada buah dada Tante Romlah yang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya. Maka langsung saja kuremas-remas teteknya yang berukuran besar dan kencang itu. Sesekali kedua putingnya yang mencuat, berwarna coklat kehitaman kupilin-pilin dengan jari-jariku. Alhasil Tante Romlah kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi.

Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang. Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan kontolku di memeknya, mulai menggoyangkan pinggulnya. Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan kontolku di memeknya.

Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku. Jepitan dinding vaginanya pada kemaluanku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang kontolku serasa digerus dan dihisap. “Ooookkkhhhhh… ooohhhhhh… sshhh ..sshhh ahahh enak bangat tante. Mmmhheee…mmeeekkkhh tante enak banget. Sssshh….. sssaaa.. ..saya ngggaaakkhh.. tahan tante. Ooohhhhh… ooouuukkhhhhhhh,” ucapku menahan kemutan memek tante yang sangat nikmat.

“Ttthhhaaaaa……hhhhaaaannnn Did, tante jjjuuugggaaahh…. hampir sampai. Aakkkkhhhhh……nnniiiikkkkhhh…. mmaaatt banget… kkkhhhooo…nnntthhooollll…. kamu eeeennnaaakkkhhh banget Did. Aaaarrrgggggghhhhh.. sshhhhhh…. aaahhhhh sssssshh…. Mmmmppphhhhh…….ookkhhh……akkhh aakhhh…aakkhhh….,” Erang Tante Romlah sambil tangannya meremas kuat pinggulku.

Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku. Namun saat goyangan pantat Tante Romlah kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan. Seperti air bah, air maniku kini memancar lebih deras dan lebih banyak dari ujung kontolku mengguyur bagian dalam memek ibu temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan. “Ssssaaa….yyyyhhaaaa nggaaaakkhhh…. tahan tanteeee, aaakkkkkhhhhhh… ooookkhhhh……… sssshhhhhh ..aaakkkhhh… aaaaakkkkhhhhhh..aakkhhhhhhh……cccrrootttttt….crroott…cccrroottt….ccccrrootttt….sseerrrrr……hhhoooookkhhh……….,” lolongku panjang sambil meremas kuat-kuat tetek Tante Romlah.

Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, memek Tante Romlah berkedut-kedut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras kontolku. Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya. “Ttttaaaannn…..tttteeeee….. jjjjuuu…gggaaa nyampaaaaiiii…… Did. Aaaaaaarrrrggghhhhhhh.. aaakkhhhh……ssshhhh… ohhh …oookkhhhhhh … aaaakkkhhhhh……,. Enak… eenaakkkhhh…. bangat Did,… hhhaaahhh…. Hhhaaaakkhhhh.. aaaakkhhhh….. …..aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang sambil jilbab yang sudah awut-awutan di kapalanya dia remas kuat-kuat.

Tante Romlah menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan. “Tante sangat puas Did. Sudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini. Kalau kamu suka, pintu rumah tante selalu terbuka kapan saja,” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama.

Di kamar mandipun, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, melihat tubuh ibu temanku basah membuatku sangat bergairah. Aku hajar Tante Romlah dari belakang dengan tiba-tiba dan cepat, kontolku masuk lebih dalam, ku genjot ibu temanku ini dengan lebih ganas dan kuat sambil teteknya yang menggantung indah aku remas-remas dari belakang. Kebetulan di kamar mandinya ada cermin di dinding untuk berhias jadi aku bisa melihat wajah ibu temanku ini megap-megap, kelojotan menerima sogokan kontolku yang besar. “Aaaaauuwwwww……. Aaaaaarrggghhhh…..aaakkkhhh…aakkhh aakkhh…aakkhhh…. Aarrrggghhhh… pppee…. Llhannn Dddiiiddd….” Jeritnya, tapi aku tetap saja menyogoknya dengan buas bahkan dengan ritme yang lebih cepat. Dan Tante Romlah hanya bisa menggelinjang-gelinjang dan tubuh ibu temanku ini berguncang-guncang dengan hebatnya. “Hhaahh…kenapa tante? Sakit tante?” godaku sambil tetap menyogokkan kontolku ke memeknya. “Nnggghh…ggggaaakkkhhh… Hhhooookkhhhh… nikmat bangat Did… kontolmu… manteb bangat…. Aakhh…aakkhh…aakkhh…akkhhh… Mmmmpphh… sssshhhhhh…”
“Sssooo…dddooookkhhhh….. ttteruuss…. Dddiidddd… ooouugghhhh…..”
“Tantteee…. Ddaaahhh…nnngggaaaakkhhhhh…. Tttaaahhhannn…. Aaaaakkkhhhhhhh…… oooouugghhhh…… ssshhhhhh….” Jerit orgasme ibu temanku ini sambil meremas-remas teteknya, badanya bergetar hebat, melenguh dan menjepit kontolku dengan sangat kuat serta menyedut-nyedutnya membuat aku juga nggak kuat, akhirnya kutembakkan maniku ke liang memeknya dengan masih aku sogok-sogokkan kontolku dan saat tembakan terakhir-akhir aku masukkan semua kontolku ke dalam memeknya, “Aaaaakkhhhhh…nnniikkkkhhh…mmmaattthhh….bbaannggaattt…. ttaaantteee…. Ookkkhhhh…… ccrrooott….crrott…ccrrottt…aaaahhhhhhhh………”
Tubuh kita sama-sama ambruk di lantai kamar mandi dan kontolku masih tetap kubenamkan di liang memek ibu temanku ini sambil terengah-engah merasakan guyuran air shower kamar mandi. Luar biasa nikmatnya.

Malam itu setelah makan bersama, aku dan Tante Romlah mengulang beberapa kali permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan. Berkali-kali air maniku muncrat membasahi lubang memeknya dan membuat lemas sendi-sendiku. Namun, berkali-kali pula Tante Romlah mengerang dan merintih oleh sogokan kontol besarku. Baru saat menjelang pagi kami sama-sama terkapar kelelahan. Demikian cerita dewasa ini diceritakan oleh saya untuk Anda. – Cersex Cerita Sex 2015, Cerita Sex Terbaru 2015, Cerita Dewasa, Cerita Mesum

Cerita Sex: Mamahku Seorang Tante Girang

Cerita Sex: Mamahku Seorang Tante Girang Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Mesum Terbaru – Cerita Sex: Mamahku Seorang Tante Girang – Sudah lebih satu tahun aku kuliah di Yogya sejak tahun 2001 lalu dan liburan semester kemarin aku berkesempatan pulang ke daerah asalku di sebuah kota kecil di Sumatra. Di rumah hanya tinggal aku, kedua orang tua dan adikku yang masih sekolah si SMU. setiap hari ayahku sibuk usaha. kadang-kadang pergi seminggu dan cuma beberapa hari dirumah, itupun cuma sebentar saja. Aku tidak pernah menyangka kalau ibuku termasuk perempuan yang libidonya tinggi, hingga dengan seringnya ayahku pergi, jelas nafsunya tak tersalurkan.



Aku tahu, ayahku juga punya pacar di kota-kota yang sering disinggahinya, karena aku pernah pergi dengannya beberapa hari dan malamnya aku tahu dikamar sebelahku (yang diinapi ayahku) terdengar suara-suara erangan. Paginya aku masuk ke kamar ayahku dan mendapati mereka tengah mandi sambil bercinta. Kembali ke masalah Ibuku, sejak seminggu aku tiba dirumah, ayahku sedang pergi ke luar kota. Malamnya aku pergi dengan beberapa temanku, kebetulan malam itu malam minggu. Adikku juga pergi ngapelin pacarnya. Ibuku tinggal sendirian di Rumah. Belum jam 9 aku memutuskan untuk pulang ke Rumah untuk menemani ibuku.

Perlu ku jelaskan rumahku ada disebuah desa yang penduduknya tidak terlalu banyak. Dekat rumahku ada sebuah sungai dan dikelilingi sawah. Rumahku dikelilingi tembok setinggi 2 meter di samping dan belakang. Setibanya di rumah, aku mendapati pintu depan dikunci. Aku lalu berjalan ke belakang, tapi begitu tiba disamping kamar ibuku kudengar suara-suara orang bercakap-cakap pelan. Ada suara laki-laki. Kupikir ayahku sudah datang. Tapi kudengar suara itu suara laki-laki yang ku kenal dan bukan ayahku. Aku berjalan mendekati jendela kaca lebar yang tertutup gorden putih. Lampu didalam remang-remang. kucoba mencari celah gorden untuk melihat kedalam dan kutemukan di tengah pertemuan antara dua gorden.

Aku lalu jongkok sambil mengintip ke dalam. kulihat ibuku sedang ngobrol mesra dengan laki-laki muda yang sudah sangat ku kenal karena dia temanku. Namanya Akbar. Dia anak tetanggaku yang putus sekolah karena orang tuannya miskin. Aku nggak tahu bagaimana dia bisa menjalin affair dengan Ibuku, tapi yang ku tahu kontolnya besar dan cokelat. Aku pernah beberapakali mandi telanjang di sungai waktu SMU sama dia dan beberapa teman sambil onani dengan sabun mandi. Kami berteman akrab dengan orang lain dan pernah mengurutkan ukuran kontol yang paling besar. Akbar, aku, Iwan dan Adi. Kulihat mereka berhenti bercakap-cakapa sambil pelan Akbar mencium bibir Ibuku (usia ibuku sekitar 40 tahun).

Ibuku membalas pelan dan merek terlihat romantis sekali. Tangan Akbar meremas payudara Ibuku yang masih terbalut daster merah yang bertali. Tangan Ibuku mengelus-elus kontol Akbar yang terbalut celana jeans. Tosisi mereka terbaring berhadap-hadapan. Akbar dan Ibuku saling menjulurkan lidah dan menghisap lidah dan bibir masIng-masing sambil tangan terus bergerilya. Tangan Akbar sudah masuk ke daster Ibuku yang talinya sudah merosot dan menampakkan payudaranya yang dibalut BH. Lalu Akbar pelan menurunkan ciumannya ke leher Ibuku sambil tangannya melepas kait BH. Dengan mulut dia melepas kait BH dari punggu Ibuku hingga menampakkan payudaranya yang mulai kendor.

Ibuku terduduk dengan bersandar di ujung ranjang. Akbar membuka baju kaosnya dan duduk disamping kanan Ibuku sambil terus menciumi payudara dan meremas vaginanya. Baju ibuku sudah turun sampai paha, ternyata dia sudah tidak Pakai CD. Vaginanya terus dielus-elus oleh Akbar. dia menggelinjang dan mengerang-erang pelan sambil tangannya mencari-cari penis Akbar. Tangannya mencoba membuka celana jeans Akbar yang bagian depannya sudah menyesak menggumpal. Akbar menghentikan ciumannya dan turun dari ranjang. Di depan ibuku yang meraba-raba vagian dan payudaranya sendiri, Akbar membuka celana Jeansnya, meninggalkan CD putih yang penisnya sudah menyeruak keluar dan sedikit berlendir. “Ayo, sayang” erang Ibuku pelan. Akbar berjalan dan naik lagi ke kasur, kali ini dia berlutut disamping ibuku dan membiarkan Ibuku mengeluarkan penisnya dan bermain dengannya. Pelan ibuku mengeluarkan penis dari CD dan mengelusnya pelan, lalu Akbar bergeser kedepan, persis di depan Ibuku. Lidah Ibuku pelan menjilati penis

Akbar yang tegang, hitam kecoklatan. Lidahnya menjilati ujung penis Akbar seperti makan es krim, lalu pelan-pelan memasukkan penis Akbar ke mulutnya. Akbar mengerang dan meremas rambut Ibuku yang terurai. Pelan-pelan akbar menggoyangkan pantatnya dan membuat penisnya keluar masuk di mulut Ibuku yang duduk tegak dengan kaki mengangkang diantara tubuh akbar yang berlutut dihadapannya. Kulihat Akbar dan Ibuku begitu menikmati permainan mereka dengan erangan dan sentuhan. Aku yang sejak tadi ngintip sambil jongkok kini berlutut dan mengeluarkan penisku dari sarangnya sambil mengelus pelan terus melihat adegan didalam kamar.

Kulihat Akbar mengerang sambil melepaskan penisnya dari mulut Ibuku dan mengocoknya hingga sperma muncrat di wajah ibuku yang menjilati penis Akbar. Akbar lalu berbaring di ranjang, ibuku turun dari ranjang mengambil tissue dan melap penis akbar yang mulai lemas terkulai. Lalu ia beranjak ke kamar mandi dengan telanjang bulat. Ibuku terbalut handuk waktu keluar dari kamar mandi dengan wajah bersih dari sperma sambil membawa segelas minuman dan mengangsurkannya ke Akbar. Aku menghentikan kocokan di penisku dengan harapan show akan berlanjut. Kulihat ibuku beranjak menghidupkan TV, suaranya terdengar sayup-sayup keluar dan kudengar suara rintihan dan erangan, langsung ku tebak itu VCD porno.

Lima menit ibuku nonton sambil duduk di bibir ranjang. Akbar juga menonton sambil masih berbaring telentang. Sepuluh menit kemudian kuliahat penisnya mulai membesar lagi sambil tangannya mengelus-elus sampai ukuran maksimal. Lalu dia beranjak kebelakang ibuku dan memeluknya sambil menciumi punggu dan melepas handuk dan meremas payudara ibuku. Ibuku memeluk leher Akbar dari depan sambil berciuman. Akbar sambil terus mencium Ibuku beranjak turun dari ranjang dan menghadap ibuku yang masih duduk di pinggir ranjang, dia berlutut dihadapan ibuku dan mengarahkan wajahnya ke vagina ibuku. Ibuku langsung mengangkangkan kakinya hingga akbar leluasa mengarahkan lidahnya ke vagina ibuku.

Akbar menjilati vagina ibuku yang menggelinjang dan mengerang pelan. Ibuku semakin mengangkangkan kakinya dengan tangan menyangga tubuh di ranjang. Akbar terus menjilati dan mengulum vagina Ibuku sampai dia mau orgasme, terlihat dengan tubuhnya yang menegang dan ia memegang kepala Akbar yang berada diselangkanagnanya. Akbar melepas cumbuannya dan membiarakan Ibuku tenang dulu dengan menciumi bibirnya pelan dan mesra sambil merebahkan tubuh Ibuku di ranjang dengan kaki masih menjulur ke lantai. Penisnya menempel di paha ibuku yang memeluknya sambil mengelus punggung Akbar.

Aku juga diluar yang mengintip sambil onani nyaris orgasme, tapi kutahan untuk adegan selanjutnya yang kutunggu-tunggu. Akbar masih mencumbu bibir Ibuku dengan mesra dan lembut, tangannya menopang pada kasur hingga tidak menempel di tubuh ibuku, penisnya digesek-gesekkan di sekitar selangkangan Ibuku. Akbar beranjak menuju meja rias dan mengambil sesuatu yang ternyata adalah cairan pelicin. Dia melumuri penisnya dengan pelicin dan juga vagina Ibuku. Lalu akbar berlutut di depan ranjang dan menarik tubuh Ibuku ke depan penisnya. Kaki ibuku mengangkang di bahu Akbar yang tengah memain-mainkan penisnya di liang vagina Ibuku. Setelah siap, Akbar menekan pelan penisnya memasuki vagina Ibuku yang merekah dihadapannya. Lalu setelah masuk semua, ia mulai mengocok penisnya di vagina Ibuku.

Tanganya memegangi kedua paha Ibuku yang ada dipunggungnya. Akbar mengocoknya pelan dan romantis sambil tanganya coba meraih payudara ibuku. Beberapa menit kemudian, Akbar mengepitkan kedua paha Ibuku dengan kakinya hingga kaki Ibuku ada di dalam kedua kakinya. Lalu ia bertumpu pada ranjang persis di hadapan ibuku. Penisnya mengarah ke Vagina Ibuku yang tertutup rapat dengan paha. Mungkin vagina Ibuku sudah lebar makanya dia coba dengan merapatkan paha supaya vaginanya merapat lagi. Dengan sebelah tangannya dia mengarahkan penisnya ke vagina Ibuku. Pelan dia menekan dengan kakinya tetap merapatkan paha Ibuku. Ternyata susah. Akbar meraih pelumas di samping ranjang dan melumuri vagina ibuku juga dengan penisnya, lalu kaki ibuku sedikit direnggangakan.

Akbar kembali menekan penisnya di vagina Ibuku pelan. Setelah masuk setengahnya dia mengocok pelan-pelan, lalu memasukkannya semua sambil terus mengocok pelan. Mulailah terdengar erangan dan dengusan nafas dari kedua orang tersebut. Setiap Akbar mengcok penisnya ke bawah Ibuku membalas dengan menggoyangkannya ke atas. Akbar memejamkan matanya sambil terus bertumpu pada kedua tangannya. Keduanya terus saling menggoyangkan pantat. Akbar pertama terlihat mau orgasme dan langsung mencabut penisnya dari vagina Ibuku. Lalu dia duduk di bibir ranjang. Ibuku bangkit dan berdiri dihadapannya.

Akbar menarik tubuh ibuku dan menaikkannya ke pahanya dengan posisi berhadapan. Ibuku mengarahkan vaginanya ke Penis Akbar yang memegangi tubuh ibuku. Setelah masuk, Ibuku kembali menggoyangkan pantatnya diatas tubuh Akbar. Ibuku senagaj mendorong tubuh Akbar hingga terbaring di Ranjang hingga dia bebas memegang kendali diats. Akbra meraih payudara Ibuku dan meresnya perlahan seirama dengan Kocokan pantat ibuku di penisnya. Aku diluar semakin kencang mengocok penisku sendiri sambil kulihat ibuku mengerang hebat dan semakin mempercepat kocokannya. Lalu semakin melemah dan akhirnya berhenti. Tubuhnya jatuh di tubuh Akbar yang terbaring. Akbar lalu membalikkan posisi mereka dan membalikkan tubuh Ibuku, lalu mengambil pelumas dan melumuri penis dan pantat Ibuku. Penisnya didorong pelan di lubang pantat ibuku pelan, lalu mengococknya pelan. Ibuku bangkit dengan posisi merangkak.

Akbar semakin leluasa mengocok penisnya dengan memegani tubuh ibuku, sesekali dia merunduk dan menciumi punggung Ibuku dan meremas payudaranya. Aku mencapai orgasme di luar begitu Akbar kocokan penis Akbar semakin kencang dan dia akhirnya sampai klimaks juga. Mereka berdua terbaring di ranjang. Tangan Ibuku mengelus dada Akbar. Lima menit kemudian, Akbar berdiri dan beranjak ke kamara mandi. Keluar dari sana dia sudah bersih dan mengenakan CDnya, lalu buru-buru berpakaian. Ibuku berdiri dan menyelipkan selembar uang seratus ribu di kantongnya.

Besok sorenya aku diajak mandi di sungai sama Akbar. Sambil merokok dan ngobrol kami duduk di pinggi sungai sebelum mandi. “Gimana cewek-cewek jogja”. Tanya Akbar sambil membuka kaosnya. “Biasa aja.” Jawabku. “Udah berapa yang kau perawani?” “Belum adalah.” “Kenapa? Kan banyak yang bias dipake disana. Masak kalah sama aku yang disini, udah merawani 3 cewek, belum lagi Ibu-ibu yang gatal memeknya pengen kontol anak muda.” “Yang bener, kau udah pernah ngentot?” pancingku. “hahauahaha..” dia tertawa.”Udah biasa itu. Untuk apa punya kontol besar tapi nggak pernah nikam.” “Siapa aja cewek itu?” “Rahasialah. Kalau kau mau, nanti aku kenalkan sama temenku yang pernah kuentoti juga. Gratis kok. Lagian kontol kamu kan lumayan gede, dia pasti suka.” “Kau pernah ngentot sama Ibu-ibu juga? Siapa?” “Itu lebih rahasia lagi. Kalau cewek-cewek untuk kepuasan, kalau Ibu-ibu untuk uang. Mana enak ngentot sama Ibu-ibu, memeknya udah blong, susunya udah kendor.” Dia berdiri membuang puntung rokok dan membuka celana jeasnnya menyisakan CD yang membalut penisnya yang menggumpal di selangkangan sambil dielus-elus. “Ini asset, harus dijaga dan dirawat.” Katanya sambil membuka CD dan beranjak ke sungai mandi. *** Tiga hari setelah malam itu, aku sedang nonton TV waktu kulihat Ibuku memanggil Akbar dengan kedok untuk memperbaiki Saluran kamar mandi yang rusak.

Masih jam 4 sore. Malamnya aku sengaja masuk kamar jam 8 malam dengan alasan capek. Adikku sedang pergi camping. Malam sekitar jam 10, aku yang sejak tadi terjaga mendengar pintu belakang dibuka. 5 menit tanpa ada suara. Aku keluar kamar dan tidak mendapati siapa-siapa di dapur. Waktu pintu belakang kubuka ternyata tidak terkunci. Aku melihat keluar dan melihat nyala senter diantara pohon-pohon yang ada di kebun belakang rumahku. Aku tahu, Ibu dan Akbar janjian di pondok tempat penyimpanan kapas untuk kasur yang salah satu bisnis ayahku. Aku menunggu sampai nyala senter hilang dan aku keluar dari dapur menuju pondok itu. Kulihat Ibuku masuk ke pondok. Aku segera beranjak ke samping dan mencari lubang untuk mengintip ke dalam. Tak susah karena pondok ini memang dibuat seadanya. Kudengar suara laki-laki didalam. Lalu sebuah lilin menyala menerangi ruangan itu. Kulihat Akbar yang mengenakan jeans dan kaos.

Sementara Ibuku Cuma memakai daster yang bertali di pundak. “Halo sayang.” Kata Akbar sambil duduk diatas kasur yang siap dijual bersandar pada kasur yang ditumpuk dibelakanganya. Ibuku ikut naik ke kasur dan duduk di sampingnya. “Rindu sama ini?” lanjut Akbar sambil mengelus penisnya. Ibuku tersenyum sambil merebahkan kepalanya di dada Akbar yang langsung memeluk dan mengelus rambut ibuku. Tanpa banyak bicara Ibuku langsung mengelus penis Akbar. Akbar membiarkan ibuku membuka resliting celananya. “Sebentar.” Kata Akbar sambil mengambil sebuah buku dari samping kasur. “Ini buku gaya-gaya kamasutra, nanti kita praktekkan.” Katanya sambil membuka halaman pertama. Ibuku ikut melihat sambil telungkup di kasur. Lama mereka membuka-buka buku sambil bercakap-cakap. Akbar lalu berlutut dan pindah kebelakang ibuku yang telungkup. Kakinya dikangkangkan diantara tubuh Ibuku dan memijat punggungnya pelan. Lalu tangannya naik dan membuka ikatan daster Ibuku yang ternyata sudah tidak pakai BH.

Akbar terus memijat punggu dan turun ke pantat sekaligus membuka baju Ibuku yang juga ternayata sudah tidak pakai CD, bokongnya diremas-remas Akbar pelan, bergerak kearah perut untuk menarik Baju. Ibuku menaikkan sedikit badannya untuk mempermudah melepas baju. Akbar langsung menarik daster Ibuku lepas. Sambil berlutut Akbar membuka baju kaosnya. Lalu dia rebah di punggung Ibuku, dadanya yang bidang digesek-gesekkan di punggung Ibuku, pantatnya nungging. Lidahnya menjilati leher belakang Ibuku dan punggungnya. Ibuku menaikkan badannya sedikit keatas sehingga Akbar leluasa meremas payudara ibuku yang menggantung. Ibuku melenguh pelan. “Sayangg..mhhmmi..oohh” Akbar menggigit punggung Ibuku yang membuatnya menggelinjang pelan. Lalu Akbar kembali berlutut dan membuka resliting celana jeasnya. Penisnya yang terbalut CD lalu digesek-gesekkan di pantat Ibuku yang kembali telungkup.

Lalu Akbar menurunkan sedikit CDnya hingga penisnya muncul keluar. Coklat kehitaman. Tangannya menumpu pada kasur dengan tubuh telungkup membuat penisnya menempel di bokong Ibuku. Lalu penisnya digesek-gesekkan pelan di bokong Ibuku, kepala penisnya mengayun-ayun di tubuh Ibuku. Akbar merangkak naik dengan penis tetap digesekkan ditubuh ibuku yang telungkup, naik ke punggung lalu di leher penisnya digeser ke arah mulut ibuku yang sedikit mendongak. Ibuku langsung berbalik dan meraih penis Akbar yang menggantung tepat diatas mukanya. Pelan Ibuku mulai menjulurkan lidahnya ke penis Akbar. Akbar memainkan penisnya di mulut Ibuku yang membasahi penis Akbar dengan air liurnya. Lalu Akbar memasukkan penisnya ke mulut Ibuku dan mulai mengocoknya pelan. Pantatnya digoyang-goyangkan pelan. Kulihat penis Akbar keluar masuk mulut Ibuku. Tangan Ibuku mencoba membuka celana jeans yang masih membalut kaki Akbar, tapi ia kesusahan karena posisi Akbar yang mengangkangi badannya. Akbar mengerti dan melepaskan penisnya dari mulut Ibuku. Ia beranjak ke samping Ibuku berdiri dan membiarkan Ibuku melucuti celannya. Ibuku pelan menarik celana jeans Akbra ke bawah membiarkan CDnya tinggal dan membalut penis Akbar yang kepalanya sudah menonjol keluar dari CD.

Lalu Ibuku menciumi paha dalam Akbar yang masih berdiri mengarah ke atas ke selangkangan bagian dalam. Akbar mengangkangkan kakinya hingga Ibuku leluasa bergerak dibawahnya. Sedikit Ibuku menggigit buah peler Akbar yang masih terbalut CD, lalu Ibuku sedikit menarik CD hingga buah peler Akbar keluar. Ibuku menjilatinya pelan. Kulihat akbar melenguh pelan sambil memejamkan matanya menikmati jilatan Ibuku. Tangannya meremas rambut Ibuku. Tanpa sadar tanganku sendiri sudah bergerilya di sekitar selangkangan. Aku Cuma memakai celana pendek hingga penisku yang sudah tegang terasa menempel di dinding pondok. Aku memelorotkan celananku sampai lutut dan membiarkan penisku menikmati udara luar sambil tanganku meremasnya pelan. Didalam kulihat Ibuku menarik penis Akbar keluar dari CD dan menjilatinya pelan. Lalu memelorotkan CD akbar hingag ia berdiri bugil. Dengan ganas ibuku menjilati dan menghisap penis Akbar. Ia menggelinjang dan melenguh, badannya menggeliat pelan menikmati sensasi isapan Ibuku. Penis Akbar masuk perlahan di mulut Ibuku yang langsung menguncinya dan Ibuku menggerakkan kepalanya pelan mengocok penis Akbar. Akbar membalas dengan menggoyangkan pantatnya maju mundur. Tangannya memegangi pundak Ibuku. “SSHhh..n ahh.. ohhmm..” Ibuku semakin mempercepat kocokannya dan Akbar mengimbangi juga.

Kulihat tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram bahu Ibuku dan tubuhnya sedikit menunduk. “Ohh..” Goyangan pantat Akbar berhenti begitu juga kocokan mulut Ibuku. Penis Akbar lepas dan sperma langsung muncrat ke sekitar leher Ibuku. Akbar terbaring di kasur, Ibuku mengambil tissue yang ternyata sudah tersedia disana juga sebotol air mineral. Ia melap sperma yang tumpah di lehernya dan memberikan air kepada Akbar sekaligus membersihkan penis Akbar yang layu penuh dengan sperma. Mereka bedua masih telanjang dan berbaring bersebelahan. Kontolku yang sejak tadi tegang perlahan-lahan juga mengendur melihat aktivitas mereka yang masih ngobrol. Aku melihat jam tanganku. Pukul 10.30. aku memutuskan pulang sebentar untuk mengambil kameraku yang memang sengaja kusiapkan untuk mengabadikan gambar mereka. Begitu kembali dari rumah kudengar didalam pondok suara erangan dan lenguhan juga derit papan. Aku buru-buru mengintip kedalam dan melihat Akbar sedang ngentotin Ibuku.

Aku buru-buru memasang tripod kamera dan mencari lubang yang lebih besar. Aku dapat lubang sebesar cangkir dan kameraku langsung mengarah ke dalam. Kulihat Ibuku tidur telentang dengan pantatnya ditumpu bantal, kakinya dipunggung Akbar yang berlutut dihadapan Ibuku. Penisnya menancap di vagina Ibuku dan mengocoknya dengan ganas. Langsung aku menjepret adegan itu. Sesekali Akbar menciumi Bibir Ibuku dan menjilati payudaranya, tangan akbar menumpu pada kasur, pantatnya terus mengenjot penisnya di vagina Ibuku yang menggelinjang dan mengerang-erang. Ibuku lalu merangkul bahu Akbar. Akbar menyesuaikan posisi dengan menjulurkan kakinya hinggak posisi mereka berganti, Akbar dibawah dan Ibuku diatas. Penis Akbar terlihat maksimal penetrasinya hingga bulu jembut mereka bersatu. Lagi-lagi aku mengabadikan posisi mereka. Ibuku langsung mengenjot vaginanya di penis Akbar. Akbar merebahkan Tubuhnya dan Ibuku dengan leluasa mengatur gerakan diatas. Tangan Akbar meraih payudara Ibuku dan mengelusnya pelan. Sesekali putingnya dicubit membuat Ibuku menggelinjang sambil terus mengenjot.

Kulihat genjotan Ibuku semakin kencang sekaligus erangannya semkin keras. “MHhhmm.. oohh..” Lalu genjotannya semakin pelan. “Sayang..sayang..sayang..” igau ibuku yang tubuhnya lalu terbaring di atas tubuh Akbar. Akbar mengelus punggu Ibuku dan pelan membalikkan Tubuh Ibuku lalu melepaskan penisnya yang basah oleh tumpahan air lendir vagina Ibuku. Akbar lalu menciumi payudara Ibuku yang masih terbaring lelah, lalu perlahan Akbar bangkit dan melap penisnya dengan Tissue, lalu berpakaian. Diluar aku bahkan belum sempat onani. Lalu aku buru-buru beranjak pergi. Besok sorenya, lagi-lagi aku mandi di sungai bareng Akbar. “Tadi malam kemana lo?” pancingku. “Biasalah, tugas.” Jawabnya. “Tugas apa?” “Nyari uang-lah. Ada Ibu yang gatal pengen ku entotin, kan lumayan uangnya.” “Memangnya berapa Ibu sih yang biasa kau entotin?” “Cuma satu kok.” “Dimana ngentotnya?” “Kau ini mau tau aja. Rahasialah.” “Ya, bagi-bagi pengalaman kenapa sih.” “Kecuali yang ini, bahaya.” “Kapan kau ajak aku ketemu sama temanmu yang bias dipake?” “Malam minggu ini aja, gimana?” “Malam ini aja.” “Nggak bisa, aku masih ada tugas.” “Tugas lagi, sama Ibu itu?” “Iya, nafsunya gede lo, makanya suka nggak puas, tadi malam aja aku nggak sempat orgasme kok, mau ngelanjutin malas, nggak bawa pelicin sih, aku mau ngentotin pantatnya, kalo memeknya udah blong, nggak enak. Makanya begitu dia kelar, aku selesai juga.” “Nanti malam dimana?” “Ya ampun, ya rahasialah, nanti kau ngintip pula.” “Ya udah.” Lalu kami mandi berdua, telanjang, kuperhatikan kontolnnya yang sering diisap Ibuku.

Malamnya aku udah bersiap-siap dengan kamera. Jam delapan aku udah masuk kamar. Jam sembilan malam kudengar suara telepon, mungkin itu dari Akbar pikirku. Setengah jam kemudian kudengar lagi pintu belakang dibuka. Aku pikir mereka mau melanjutkan yang tadi malam di pondok. 5 menit setelah ibuku keluar, aku langusng keluar dengan menenteng kamera. Tapi di pondok tidak kudapati suara-suara maupun cahaya lilin. Aku ke belakang pondok dan melihat nyala senter di kejauhan. Aku tahu itu jalan menuju ke sungai yang melewati sawah dan kebun. Aku langsung bearnjak mengikuti cahaya itu. Untung malam purnama, jadi aku masih bisa melihat jalan. Aku semakin dekat dengan cahaya itu, kulihat Ibuku jalan sendiri, mungkin Akbar menunggu di suatu tempat. Tapi dimana, aku juga masih bingung. Mungkin di salah satu pondok di sawah. Semakin dekat ke sungai setelah melewati sebuah kebun membuat aku semakin bingung. Mau apa mereka di sungai? Jalan itu terus ku lalui, itu jalan ke sungai tempat aku dan Akbar mandi sore.

Lalu kulihat Ibuku turun terus ke sungai, aku mengambil jalan lain dan mengintip dari atas. Kulihat ada nyala rokok di bawah, lalu nyala senter. Ibuku dan Akbar. Ternyata di rumput di pinggir sungai sudah ada sebuah tikar dan Akbar tengah duduk disana. Ibuku langsung menghampiri. Aku beranjak lagi sedikit ke timur supaya dapat melihat dengan jelas. Jarakku dengan mereka Cuma sekitar 6 meter. Untung suara air meredam suara derak kayu yang kuinjak. Akbar memakai celana pendek, sedangkan Ibuku seperti biasa memakai daster. Bulan diatas membuat segalanya terlihat jelas dan terang. Mereka mengobrol pelan. “Jangan-jangan anakmu tahu tentang hubungan kita.” Kata Akbar. “Kok bisa?” Tanya Ibuku. “Yah siapa tahu aja, dia kan sudah dewasa, mungkin logikannya bisa sampai kesana, apalagi waktu malam di pondok itu aku mendengar langakh-langkah orang.” “Kalau dia tahu, kenapa dia nggak bilang?” “Mungkin dia takut, atau malu.” “Udah ah, nggak usah bahas itu.” Kata Ibuku manja sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Akbar. Akbar mengelus rambut Ibuku sambil membuang rokoknya. Lalu dia membaringkan tubuh Ibuku di tikar, dia terbaring disampingnya. Lalu Akbar mulai mengulum pelan bibir Ibuku yang membalasnya pelan. Tangan akbar bergerilya di payudara dan vagina Ibuku. Dasternya ditarik hingga terlihat CDnya. Tangan Akbar merogoh dan mengelus-elus vagina Ibuku yang masih dibalut CD.

Cumbuan akbar turun ke leher dan sekitar kuping dalam Ibuku yang melenguh pelan. Rmabut Akbar diremas-remas. Cumbuan Akbar turun ke payudara Ibuku yang dilapisi daster, terus turun ke bawah, tangannya menyingkap daster Ibuku dari bawah ke atasa, ibuku sengaja mengangkat badannya hingga Akbar dengan mudah membuka seluruh daster lepas dari Tubuhnya. Kini Ibuku Cuma memakai CD dan Bra saja. Akbar membuka baju kaos dan celananya sekaligus menyisakan CD yang penisnya seolah sudah mau mneyeruak keluar. Lalu dia mencumbu kaki Ibuku pelan, menciuminya kearah atas dan bagian dalam Paha Ibuku. Semakin kedalam membuat Ibuku menggelinjang pelan. Melenguh pelan. Kaki Ibuku satu diangkat akbar dan diciuminya sampai ke pangkal paha. Sesekali digigitnya paha Ibuku. Lalu Akbar menggigit CD ibuku dan menariknya hingga terbuka lepas dari kaki. Akbar berlutut dihadapan Ibuku dan menarik kedua kakinya hingga selangkangan Ibuku menempel di selangkangannya yang menggumpal.

Akbar mengeluarkan penisnya dari CD dan menggesek-gesekkannya ke vagina Ibuku pelan. Dengan kepala penis dia memainkan klirotis Ibuku. Ibuku mencoba menyodok penis Akbar, namun akbar memang sengaja Cuma menggesek-gesekkan saja. Aku sudah membuka celana pendekku hingga penisku muncrat keluar. Kamera dan tripod sudah stand by. Sesekali aku memotret pose mereka dan setelah itu sibuk dengan penisku sendiri. Setelah itu, Akbar menjilati vagina Ibuku yang sudah basah, semakin membuat dia menggelinjang dan mengerang hebat. “Akbarr.. hhmmhhmm..” erangnya membuat Akbar semakin binal. Lidahnya dijulurkan kedalam vagina Ibuku sementara tangannya meraih payudara. Setelah puas dan Ibuku terlihat hampir orgasme, giliran payudara yang dikulum Akbar. Putting susu ibuku dijilati dan diemut perlahat. Sesekali digigit dan ditarik keatas. Lalu kembali mereka berkuluman mesra. Penis Akbar yang sejak tadi sudah keluar dari CD, menempel di perut Ibuku. Akbar beranjak dari tikar, berdiri dan membuka CDnya, lalu berjalan ke arah sungai, diikuti Ibuku yang membuka Branya lalu jalan telanjang ke arah sungai.

Akbar menceburkan dirinya di sungai yang dalamnya cuma sebatas lutut itu. Lalu duduk disana menunggu Ibuku yang berjalan kearahanya. Ibuku menceburkan dirinya juga di dekat Akbar. Setelah sama-sama basah, Akbar memeluk Ibuku, mereka saling berhadapan. Ibuku duduk diatas paha Akbar. Aku membayangkan penis Akbar yang menempel di selangkangan Ibuku di dalam air dan membayangkan sensasi badan mereka yang basah dan licin. Mereka saling berkuluman sambil tangan masing-masing bergerilnya di berbagai tempat. Ibuku mencondongkan tubuhnya ke belakang saat Akbar mencumbui perut dan payudaranya. Lalu akbar membalikkan posisi.

Dia berada di belakang Ibuku dan meremas payudaranya dengan mesra sambil mencumbui leher belakang Ibuku. Tangan Akbar meremas-remas payudara Ibuku dengan geraka memutar dan sesekali mencubit pentilnya. Satu tangan memainkan klirotis Ibuku di dalam air. Mereka berbalik lagi, Akbar berlutut dihadapan Ibuku hingga penisnya terlihat jelas, Ibuku mengerti, lalu meraihnya dan mengelus pelan sambil menjilati bibir Akbar. Lalu cumbuan terus turun ke leher dan dada Akbar yang bidang menuju penisnya yang menantang. Ibuku menunduk dan menjilati kepala penisnya yang merah kecoklatan. Seperti menjilati es krim, sesekali buah pelir Akbar diisapnya pelan. Akbar mencengkeram rambut Ibuku. Lalu pelan Ibuku memasukkan seluruh penis Akbar kemulutnya dan Akbar mulai mengocoknya pelan. Pinggulnya digoyang-goyangkan. Ibuku memegangi pinggang Akbar. Kupandangi wajah Akbar yang menikmati kuluman. Lalu dia melepas penisnya dari mulut Ibuku dan menuntun Ibuku berjalan ke pinggir sungai yang agak tinggi.

Lalu ibuku dituntun untuk duduk disana, lalu kudua kakinya. *** 3 hari sesudah kejadian di sungai, Ayahku pulang. Karena libur, aku dan adikku biasanya bangun jam 9 atau jam 10 pagi setiap hari. Tapi hari itu aku kudu bangun pagi karena mau pergi jalan-jalan barengan temanku termasuk si Akbar. Makanya jam 5 pagi aku terbangun dan langsung mau mandi. Kamar mandi rumahku dekat dengan dapur. Waktu aku mau melewati dapur kulihat ibuku sedang masak, sementara ayahku ada dibelakanganya sedang memeluk Ibuku yang menghadap meja, mungkin sedang mengoles roti, mereka membelakangiku. Kulihat ayahku menciumi tengkuk Ibuku dan tangannya memeluk dan sepertinya meremas payudara Ibuku. Aku langsung mengambil posisi yang enak untuk mengintip kelanjutan kegiatan mereka. Kudengar suara kecupan-kecupan ayahku di leher dan tengkuk ibuku. Lalu Ibuku berbalik dan mereka berciuman dengan liar.

Tangan ayahku meremas kedua belah payudara ibuku yang hanya memakai daster. Tangan ibuku masuk ke dalam celana pendek yang dipakai ayahku dan meremas bokongnya. Mereka terus berciuman, ayahku menciumi leher ibuku sambil tangannya masuk ke selangkangan ibuku yang dasternya diangkat keatas. Lalu ayahku menarik daster ibuku ke bawah hingga nampak payudaranya menggantung dan langsung dilahap ayahku. Putingnya dijilat dan dihisap membuat ibuku menggelinjang kegelian. Mulutnya mendesah-desah sementara tangannya meremas rambut ayahku yang semkain ganas manciumi perut ibuku dan terus turun ke selangkangannya yang juga ternyata nggak pake CD. Ayahku melahap vagina ibuku sambil tangannya meremas payudaranya. Lalu ayahku berdiri dan mengambil selai kue dari meja dan mengoleskannya di vagina ibuku, kemudian menjilatinya pelan. Ibuku semakin menggelijang hebat.

Ayahku menarik semua daster dari tubuh ibuku dan menaikkan tubuh ibuku ke meja, lalu mengangkangkan kakinya. Ia sendiri membuka celana pendek yang dipakainya, lalu CD putih yang sedikit basah diujung penisnya. Penis ayahku hitam kecoklatan dan nggak terlalu besar, masih besar punya Akbar dan punyaku juga. Ibuku memegang pundak ayahku waktu ayahku mendekat dan mencoba menusukkan penisnya ke vagina ibuku yang kakinya mengangkang. Lalu pelan ayahku mulai mengocok penisnya pelan. Tubuh mereka bergoyang-goyang, juga meja. Sambil menggoyang, ayahku memegang paha ibuku dan sambil menjilati payudaranya yang terguncang-guncang. Tangan ibuku menumpu ke belakang. Tubuhnya terguncang-guncang oleh goyangan pantat ayahku di selangkangannya. Ia mendesah-desah.

Lalu tiba-tiba kaki ibuku memeluk tubuh ayahku yang terus menggoyang-goyang, ibuku memeluk ayahku dan ayahku sepertinya tahu kalau ibuku mau orgasme, lalu dia menghentikan kocokannya dan menciumi bibir ibuku pelan. Mereka berciuman, namun kali ini pelan dan penuh perasaan. Lalu ayahku menggendong tubuh ibuku dan membawanya ke ruang tamu, aku cepat-cepat sembunyi di balik tirai supaya tidak ketahuan. Ayahku lalu duduk di sofa dan membiarkan ibuku naik ke pangkuannya. Aku melihat pemandangan itu dari posisi samping, hingga bias kulihat jelas waktu penis ayahku masuk ke vagina ibuku. Dengan posisi saling memangku dan berhadap-hadapan, ibuku menggoyangkan pantatnya di atas ayahku yang sibuk menjilati payudaranya. Tangan ibuku menumpu pada pegangan sofa, ayahku memegani punggung ibuku dan mengusap-usapnya. Ibuku terus mengocok vaginanya di penis ayahku sambil melenguh dan mengerang. Goyangan ibuku semakin kecang dan membuat ayahku melenguh keras dan menggigit payudara ibuku yang tepat dihadapannya. Lalu tubuh ibuku mengejang dan dia menjerit tertahan, lalu kocokannya berhenti. Ternyata dia sudah orgasme.

Tapi ayahku belum. Ibuku bangkit dari tubuh ayahku dan duduk disampingnya. Lalu menunduk dan mengulum penis ayahku yang masih tegak. Ayahku mengangkangkan kakinya, ibu pindah ke bawah kursi persis diantara kedua kaki ayahku. Ibuku turun dari kursi, sementara ayahku mengangkangakn kedua kakinya, lalu Ibuku mulai menjilati penis ayahku yang masih menjulang. Lidah ibuku kulihat menjilati buah peler ayahku dan menghisap-hisapnya, tangan kanannya meraba-raba puting ayahku yang mengerang erang dengan mata terpejam. Pelan ibuku terus menjilati kepala penis ayahku, lalu memasukkannya ke mulut pelan, dihisap lalu dikocok-kocok dengan mulutnya.

Ayahku meracau tak karuan dan mendesis-desis. Cumbuan Ibuku kini pindah ke perut, menjilati disana dan naik ke puting ayahku. Lidah Ibuku memainkan puting ayahku pelan, dijilat-jilat dan sesekali digigit. Lalu ibuku mencumbu leher ayahku yang mendongakkan kepalanya di kursi. Meninggalkan cupangan dan jilatan disana, naik ke kuping. Lidah ibuku menari-nari disana. Ayahku tak tahan, dai meraih mulut ibuku dan mereka saling berkuluman lagi. Tubuh ibuku kini kembali berada diatas tubuh ayahku tapi tanpa ada penetrasi, mereka hanya berciuman dan saling mengulum bibir. Lalu ayahku mengendong tubuh ibuku dan membawanya ke kamar mandi sambil terus berciuman. Telanjang. Setelah mereka masuk, aku mencoba mengintip dari lubang kunci, tapi nggak kelihatan dan aku Cuma mendengar suara air diguyur, lalu desahan-desahan. *** Beberapa hari kemudian, Ayah dan Ibuku pergi ke luar kota, ada saudara yang menikah. Aku tinggal berdua dengan adikku. Ibuku menyuruh seorang tetangga untuk memasak.

Anaknya kira-kira berumur 19 tahun, baru lulus SMU tapi nggak bisa melanjutkan kuliah karena keluarga nggak mampu. Namanya Ririn. Hari pertama, pagi-pagi dia sudah datang untuk membersihkan rumah dan memasak sarapan. Aku tidak terlalu perduli, aku melakukan aktifitas seperti biasa. Adikku masih liburan. Karena aku bangun kepagian untuk buka pintu untuk Ririn, setelah mandi dan sarapan aku tidur lagi di kamarku. Sekitar jam 10 pagi aku terbangun lagi dan berencana untuk mandi lagi. Tapi waktu melewati kamar Dedi, adikku, aku mendengar suara desahan, seperti orang sedang ngentot. Aku merapatkan kupingku ke lubang kunci dan dapat mendengar dengan jelas desahan dan eranagn itu benar dari dalam. Aku cepat beranjak ke samping rumah tempat jendela kamar Dedi berharap bisa melihat kejadian di dalam.

Aku kaget?mati waktu melihat Dedi sedang ngentotin Ririn. Aku melihatnya dari jendela yang ternyata memang tidak dikunci oleh Dedi. Ternyata adikku nggak kalah sama Ibunya. Kulihat Dedi tengah mengenjot kontolnya di memek Ririn yang mengangangkang di atas tempat tidur sementara Dedi diatasanya mengocok dengan ganas. Desahan mereka sampai terdengar diluar. Untuk kawasan rumaku halamannya luas dan ada tembok tinggi mengelilingi jadi nggak kedengaran. Aku betul-betul nggak nyangka kalau Ririn ternyata mau melakukan itu, karena dia terlihat malu-malu dan sopan sama aku. Dan Dedi juga ternyata sudah fasih dengan kegiatan itu. Sebelum mereka selesai aku bernajak pergi dari sana. Onani ke kamar mandi. *** Malamnya Dedi pergi sama teman-temannya karena malam minggu. Aku yang nungguin rumah. Ririn masih belum pulang dan sedang mencuci piring di dapur. Aku sesekali mencuri pandang dan mengintip dia. Jujur aja, aku juga jadi kepingin ngerasain gimana rasanya ngentot dan Ririn bisa kujadikan objek. Langsung aku mengunci pintu rumah, lalu beranjak ke dapur. Masih kulihat Ririn mencuci piring membelakangiku. Aku masih ragu-ragu untuk memulai. Tapi aku memberanikan diri mendekai Ririn.

Kupeluk dia dari belakang. Dia kaget. “Bang..?dia bilang pelan tapi tidak coba menepis pelukanku. “Aku tahu apa yang kamu lakukan sama Dedi,?bisikku mengancam “jadi jangan menolak.?Lanjutku. Dia diam saja. Aku melepaskan tangannya dari sabun cuci dan mencucinya di keran sambil memeluknya dari belakang. Tengkuknya pelan-pelan kuciumi, dia tak berani menolak dan menurut apa yang kulakukan. Kubalikkan badannya dan langsung bibirnya kusergap, kuhisap-hisap, dia malah mulai membalas dan sepertinya menikmati ciumanku. Tanganku mulai bergerilya di payudaranya yang masih terbungkus baju kaos putih. Lalu menyusup pelam dari arah pusar dan menyentuh payudaranya yang terbalut bra. Ciumanku beralih ke leher dan sekitarnya, kujilati dan kugigit pelan. Dia menggelinjang. Aku semakin suka dengan gelinjangannya. Pelan aku melepas cumbuan dan menatap wajahnay yang malu menatapku. Aku melepas kaos yang dipakainya pelan.

Dia menaikkan tangannya membantuku melepas bajunya. Kulihat gundukan putih yang masih terbalut bra dihadapanku, seolah menantang. Aku menyentuhnya pelan, lalu kukecup bagian yang tidak tertutup bra di bawah leher, lalu kecupanku naik ke leher, pelan tururn lagi sambil tanganku mencoba membuka kait branya di punggung. Setelah lepas, pelan aku lepaskan dari tubuhnya, dia masih menunduk. Kini payudaranya terlihat tanpa sehelai benangpun dihadapanku. Kusentuh pelan dengan tangannku. Putingnya mengeras dan kupelintir pelan, dia menggelinjang dan mendesah dengan mata tertutup. Aku menunduk dan mengecup puting perempuan untuk pertama kali. Lalu kujilat putingnya dan kukulum. Dia semakin menggelinjang dan meremas rambutku. Tanganku yang satu lagi meremas pantatnya. Dari puting kanan lalu pindah ke puting kiri, tangan kananku mengangkat rok yang dipakainya dan meraba-raba sekitar selangakangannya pelan. Jari-jari tengah kumainkan di vaginanya yang terbalut CD, dia mendesah pelan.

Kulepaskan cumbuan bibirku di payudara dan tanganku dari vaginanya. Kutatap dia yang masih merem. Lalu kucumbu perutnya pelan, kujilati pusarnya pelan, menjilat-jilt sekitarnya dan sesekali meninggalkan gigitan, terus turun ke bawah mendekati pinggangnya. Tanganku sambil terus kucumbu perutnya?membuka kait rok dibelakangnya. Lalu melepas pelan. Roknya jatuh ke lantai. Ririn melepaskan roknya dengan mengangkat kakinya sendiri. Dihadapanku dia cuma memakai CD membuatku semakin gila. Pelan kuciumi vagiannya yang masih terbalut CD namun sudah basah di bagian klirotisnya. Tanganku memegang pinggul dan meremas pantatnya. Dia mundur sedikit menuju meja makan dan tangannya menumpu disana. Lalu kakinya dikangkangkan hingga aku bisa leluasa melihat selangkangannya. Kucumbu sekitar paha dalam dekat vaginanya, dia terus mendesah dan menggelinjang hebat. Lidahku menjilat-jilat dan terus mendekati vaginanya. Kugigit pelan vaginanya dari luar CD, dia menjerit tertahan.

Kulirik dia diatas kepalaku, lalu aku menarik CD putihnya pelan. Dia pasrah dan membantu aku melepaskan dengan manaikkan kakinya. Kuletakkan CD di lantai dan langsung meraba vaginanya yang kini merekah dihapanku dengan bulu-bulu lumayan lebat. Kusibakkan bulu-bulunya dan kujentikkan klirotisnya dengan satu jariku. Lalu kedua tanganku menarik kesamping masing-masing vaginanya dan aku mendekatkan wajahku ke vaginanya dengan lidah menjulur. Dian menggelinjang dan mendesah keras seperti waktu dientot Dedi. Aku semakin liar dan menjulurkan semakin dalam lidahku ke vaginanya, menjilat-jilat dan menyedot. Tubuhnya menggelinjang tak karuan, lidahku terus menjilat dan mengulum sambil tangan kananku meraih payudara dan meremasnya. “Bangg? bangg?hh. hh. h..h. ngg..” dia mengerang dan tubuhnya meneang dan aku rasakan cairan keluar dari vaginanya. Dia sudah orgasme sebelum aku sempat buka baju.

Dua hari kemudian, ibuku pulang sendiri, ternyata ayahku langsung pergi ke Medan untuk bisnis lagi. Ririn udah jarang ke rumah kami sejak ibuku pulang, hanya sesekali untuk bersih-bersih rumah. Suatu siang, aku iseng pergi main ke pinggiran sungai yang rimbun kayak hutan kecil. Di sekelilingnya ada ladang penduduk. Waktu aku melewati salah satu pondok di sebuah ladang, aku mendengar dua orang bercakap-cakap. Aku seperti mengenal suaranya, seperti suara ibuku. Aku lihat lebih dekat dan ternyata benar, ibuku tengah bercakap-cakap dengan Pak Sarif, pemilik ladang sayuran itu. Hanya berdua, istri dan anaknya entah kemana, biasanya mereka selalu membantu.

Kulihat mereka bercerita dengan tatapan lain dari biasa orang bercakap-cakap. Tapi perasaan janggal itu aku abaikan dan pergi ke sungai untuk mandi. Aku mandi di sebuah ceruk. Telanjang. Selesai mandi, aku mau pulang dan sengaja lewat jalan ladang Pak Sarif supaya aku bisa tau apa yang dilakukan ibuku disana. Ladang Pak Sarif, adalah ladang sayuran yang disekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon rindang dan menjadikan ladang itu seperti tempat tertutup dari lingkungan luar. Pondok di ladang itu ada di pinggir dekat rimbunan pohon pisang. Waktu aku lewat, aku nggak lagi menemukan ibuku dan Pak Sarif disana. Aku coba melongok ke dalam pondok, dan ternyata memang udah nggak ada. Aku mau beranjak pergi waktu ku dengar suara desahan dan gesekan daun di pinggir pondok yang ditumbuhi pohon pisang yang rindang. Aku pelan-pelan memutari pondok dan mengintip ke arah itu. Ternyata kudapati ibuku tengah bercinta dengan Pak Sarif.

Kulihat Pak Sarif tengah mencumbu ibuku. Payudaranya sudah lepas dar Bra dan dadanya dikulum Pak Sarif. Mereka menggelar tikar disana dan tempatnya memang tersembunyi. ibuku menggelinjang pelan waktu Pak Sarif terus mencumbu payudara dan lehernya. Posisi mereka saling berhadapan duduk diatas tikar. Tangan Pak Sarif sibuk bergerilya di payudara dan selangkangan ibuku. Setelah puas, gantian ibuku yang ambil kendali, dia membuka baju yang dipakai Pak Sarif, hingga menampakkan dadanya yang bidang karena berkerja sebagai petani dan berbulu tebal. Pak Sarif kuakui memang ganteng, dan 5 tahun lebih muda dari ibuku. Pak Sarif berlutut di depan ibuku yang mengelus-elus dadanya yang bidang. Lalu menjilati putingnya pelan. Pak Sarif merem melek menikmati cumbuan ibuku.

Tangan ibuku mulai bergerilya di sekitar selangkangan Pak Sarif yang cuma memakai kain sarung, sehingga ibuku bebas bisa meraih kontolnya yang sudah menegang. ibuku memegang kepala Pak Sarif dan langsung mengulum bibirnya dengan ganas. Pak Sarif membalas tak kalah ganas, mereka saling berkuluman dan saling meraba, saling bertelanjang dada. Ibuku asyik menggesek-gesekkan payudaranya ke dada berbulu Pak Sarif yang juga asyik menikmati kekenyalan payudara ibuku di dadanya. Tangannya sibuk merogoh selangkangan ibuku. ibuku merebahkan dirinya dan membiarkan Pak Sarif menelanjanginya dengan melepaskan daster yang dipakainya dari tubuh ibuku. CD ibuku yang berwarna putih sudah terlihat basah dan acak-acakan. Pak Sarif melepas kain sarungnya dan menyisakan CD yang juga berwarna putih dengan kontol yang kepalanya menyeruak keluar berwarna hitam kecoklatan dan ujungnya mengkilap berair. Lalu Pak Sarif rebah disebelah ibuku sambil meraih payudara dan mengulum yang sebelahnya. Tangannya bergerilnya dari payudara ke perut dan berakhir di vaginanya yang masih terbalut celana dalam. Tangan dan jari-jari Pak Sarif masuk ke CD ibuku dan menari-nari didalamnya membuat ibuku mengerang dan menggelinjang hebat. Erangannya terdengar pelan tertahan. ibuku sepertinya tidak tahan lagi dan membalikkan posisi. Dia gantian mencumbu dada Pak Sarif dan terus turun ke bawah menuju selangkangannya. ibuku meraih kepala penis Pak Sarif yang mencut keluar dari CD.

Ganas, ia menarik CD itu keluar dari kedua kaki Pak Sarif. Pelan dia menjilati penis Pak Sarif yang berurat coklat kehitaman itu. Pak Sarif mengerang pelan. Pantatnya ikut menggelinjang dan mencoba menusuk-nusuk dalam mulut ibuku. Ibuku naik ke tubuh Pak Sarif yang terbaring dan mencium dadanya yang bidang penuh berbulu lebat, mencupang puting dan sekitar dadanya, terus menciumi di leher dan berakhir di bibir, mereka asyik berpagutan hangat. Tangan Pak Sarif meremas-remas payudara ibuku yang menggantung. Pelan ibuku menempelkan payudaranya ke dada Pak Sarif, lalu mulai memijatnya pelan-pelan. ibuku memberikan pijatan payudara di tubuh Pak Sarif yang terus mengerang dan menggelinjang sambil meremas-remas pantat dan punggung ibuku. ibuku kembali naik ke atas dan mengarahnya payudaranya ke wajah Pak Sarif yang langsung menyambutnya dan mengulum putingnya pelan, ibuku menggelinjang sambil tangannya menumpu pada tikar. Tangan Pak Sarif mengelus-elus vagina ibuku yang merangkak dihadapannya sambil terus menulum dan menghisap payudaranya.

ibuku melepas CD-nya dan merebahkan badannya di sebelah Pak Sarif. Gantian Pak Sarif yang aktif. Dia langsung merengkuh tubuh ibuku dan menindihnya pelan. Penisnya menempel pada selangkangan ibuku. Pak Sarif mencumbu cuping ibuku pelan dan terus mencumbu sekitar leher dan terus turun ke payudaranya. Posisi Pak Sarif turun menyamping di samping ibuku dan tetap mengulum dan mencumbui sekitar payudara dan perut. Tangannya mengelus vagina ibuku yang kakinya menerjang kesana kemari menahan kenikmatan cumbuan Pak Sarif dan tangannya terus bergrilnya. Sesekali Pak Sarif menusukkan jari-jarinya ke dalam vagina ibuku dan ibuku melenguh pelan. Pak Sarif duduk di samping ibuku dan mulai tangannya meraba-raba tubuh ibuku. Kakinya dinaikkan dan Pak Sarif menunduk ke arah vagina ibuku. Pelan Pak Sarif mulai menjilati vagina ibuku, menyibakkan bulu-bulu di sekitarnya dan lidahnya menjulur pelan, menjilati selangkangan, menjilati klitoris dan sesekali memasukkan lidahnya ke lubang vagina ibuku. Ibuku terus menggelinjang hebat. Tangan Pak Sarif menaikkan kedua kaki ibuku dan mengangkangkannya, menekuk ke atas. Vagina ibuku menganga lebar di depan kontol Pak Sarif yang tegang.

Ibuku menuntun kontol itu ke vaginanya, menggesek-gesekkannya sebentar sebelum Pak Sarif menekan hingga kepala penisnya masuk. Ibuku melepas penis dan membiarkan Pak Sarif memasukkannya sendiri. Pak Sarif tidak langsung menekan semua batang kontolnya tetapi mengocoknya pelan sebatas kepala penisnya saja. Ibuku rupanya sudah tidak tahan menggoyangkan pantatnya ke atas sehingga penis Pak Sarif amblas setengahnya, tapi Pak Sarif sigap menarik penisnya, sepertinya dia sengaja membuat ibuku penasaran. “Bang.. ayo dongg.. masukkan kontolmu ke memekkuu.. aku udah nggak tahann.. ohh.”, erang ibuku sambil mencoba meraih Penis Pak Sarif dan kembali mengarahkan ke vaginanya, setelah dekat dia sendiri yang menggoyangkan pantatnya hingga penis itu masuk, Pak Sarif mendiamkan saja, batang penis itu baru masuk separuhnya, Pak Sarif menekan sedikit lagi sambil terus memegang kedua kaki ibuku.

Dia mengambil ancang-ancang untuk memulai kocokannya. Begitu ibuku kembali menggoyangkan pantatnya, Pak Sarif juga menekan penisnya hingga amblas di vagina ibuku. Ibuku menjerit tertahan. “Ah.. ohh..” Pak Sarif pelan mulai mengocok penisnya di vagina ibuku, pelan gerakannya lamban, tangannya lepas dari kaki ibuku dan menumpu pada tikar di tanah, kaki ibuku mengait di tubuh Pak Sarif. Sesekali Pak Sarif mencium dan berpagutan dengan ibuku. “Oh.. bangg.. terus bang..” “Yah.. shh.. enak.. gimana sayang, enakan mana sama kontol suamimu?”, Tanya Pak Sarif sambil terus menggenjot penisnya. “Besar punyamu sayang, suamiku udah loyo, kontolnya kecil, dia nggak pernah muasin aku.. teruss.. sayang.. kontolmu besar.. enak memekku..” “Dengan Akbar gimana? Enak mana?” “Sayangg.. kalian sama-sama enak.. kontolnya besar-besarr.. ohh.. Badannya juga bagus.. apalagi bulu-bulumu yang tumbuh di sekitar dada dan selangkangan.. oh.. sayangg.. entotin terus aku.. mhh..” “Yahh.. kupuasin kau.. hh..” Pak Sarif menggenjot makin kencang ke vagina ibuku yang terus mengerang pelan. Pak Sarif mengangkat tubuh ibuku dan mendudukkannya berhadap-hadapan dengan dirinya dengan penis masih menusuk di vagina. Pelan mereka berkuluman berhadap-hadapan sambil ibuku dari atas tubuh Pak Sarif menggenjot pantatnya pelan.

Pak Sarif leluasa meraih payudara ibuku. Menggigit dan menjilatinya. Dia meninggalkan dua cupangan di sekitar payudara ibuku. Lalu Pak Sarif merebahkan tubuhnya hingga ibuku diatas, dia mulai menggenjot dari atas, Pak Sarif leluasa meremas payudara dan pantat ibuku. ibuku betul-betul menikmati ngentot itu, kuliaht dia merem melek sambil mendesis. Tubuhnya dicondongkan ke depan sehingga tepat berada di atas Pak Sarif dan kocokannya makin kencang. Pak Sarif sepertinya merasakan kalau ibuku mau orgasme hingga ia langsung mengambil alih, dia kembali duduk dan merengkuh tubuh ibuku dan mencumbunya pelan. Ibuku disuruh menungging dan dia berlutut di belakang ibuku. Pelan dia memasukkan penisnya dari belakang. Lalu kembali mengocoknya pelan. Tangannya memegang pantat ibuku. Kulihat payudara ibuku menggantung bergoyang-goyang. Pak Sarif mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencumbui tengkuk ibuku dan meremas payudaranya.

Kocokan Pak Sarif pelan berirama, makin lama makin cepat. Lalu dia sedikit bangkit dan mengangkat kedua kaki ibuku yang langsung menopangkan tangannya pada tikar. Pak Sarif mengangkat kakinya ke atas dengan penis menusuk di vagina. Pak Sarif berlutut dengan tubuh condong ke belakang hingga vagina ibuku leluasa masuk ke penisnya. Ia mengocok pelan. Pelan Pak Sarif mengangkat tubuh ibuku ke pinggir tikar yang ada rebahan pohon pisang. Ibuku didudukkan di sana, kakinya dikangkangkan dan ibuku menuntun lagi penis Pak Sarif ke vaginanya. Pak Sarif berlutut di hadapan ibuku. Lalu mulai mengocok penisnya di vagina ibuku. “Teruss.. sayang.. teruss..”, erang ibuku. Pak Sarif membungkam mulutnya dengan kuluman sambil terus mengocok penisnya. ibuku menaikkan kedua kakinya ke phon pisang tempat dia duduk hingga tangan Pak Sarif leluasa meremas payudara dan menjelejahi tubuhnya. “Oh.. ss..”, erang Pak Sarif berbarengan dengan ibuku.

Gerakan mereka makin cepat dan cepat, sampai ibuku menjerit tertahan. Tubuhnya memeluk erat tubuh Pak Sarif yang masih mengocok penisnya kencang. Lalu dia juga mendesah tertahan dengan kocokan yang semakin pelan dan pelan. 2 menit mereka berpelukan sebelum melepaskan diri. Kulihat vagina ibuku basah dan juga penis Pak Sarif yang masih tegang. Ibuku meraih penis itu dan mengusap-usapnya. “Kamu hebat sayang.” Aku buru-buru pergi sewaktu mereka sedang berpakaian. Dua hari kemudian, aku pergi sejak pagi ke rumah temanku. Ibuku tinggal sendirian di rumah, adikku masih pergi liburan. Waktu aku pulang agak siang, aku lagi-lagi mendapati pintu rumahku tertutup, tapi aku lihat ada sandal laki-laki di luar rumah. Mungkin Ibuku lagi nih, atau ayahku sudah pulang. Akhirnya aku putuskan untuk mengintip dari sela-sela kaca ruang tamu. Kulihat ibuku tengah ngobrol dengan seorang laki-laki, ku kenal dia karyawan ayahku yang tinggal di kampung menjaga ternak kami. Namanya Pak Karmin, orangnya tinggi besar dan hitam seperti orang negro. Pak Karmin mau pamit pulang. Dia berdiri dan hendak melewati ibuku yang duduk di sofa. Ibuku memegang tangannya.

Pak Karmin menoleh heran. “Ada apa Bu?” tanyanya. “Kamu mau langsung pulang Min?” “Iya, Bu. Ternak nanti nggak ada yang ngasih makan.” “Istri dan anak kamu kan ada.” “Tapi itu tugas saya Bu.” “Kamu jangan cuma bisa merawat sapi-sapi itu, Min.” “Cuman itu yang saya mampu, Bu.” Ibuku masih memegang tangan Karmin dan dia masih berdiri tepat di hadapan Ibuku yang duduk. “Kamu sepertinya bisa yang lain, Min.” “Maksud Ibu apa?” tanyanya lugu. “Kamu bisa merawat saya sebentar.” “Merawat gimana bu?” tanyanya makin bingung. Ibuku tak menjawab, tapi langsung tangannya beraloh ke selangkangan Pak Karmin. Pak Karmin terkejut dan sedikit mundur. “Nggak usah takut, Min. sini, kamu rawat Ibu dulu.” “Jangan bu, nanti Bapak tahu.” “Bapak di luar kota, Min, nggak ada di rumah ini.” “Anak Ibu?” “semua sedang pergi. Ayo sini maju.” Karmin seperti dicocok hidungnya maju ke arah Ibuku yang langsung menyambut dengan kemabli menggerayangi selangkangan Pak Karmin yang Masih berdiri. “Udah lama aku pengen ini-mu, Min.” kata Ibuku sambil menyentuh kontol Pak Karmin yang tampaknya mulai menegang, terlihat dari celana yang dipakainya menggelembung di sekitar selangkangan.

Pak Karmin diam saja berdiri di depan Ibuku yang terbakar birahi. lalu pelan Ibuku menarik ke bawah celana Training yang dipakai Pak Karmin hingga kontolnya muncrat keluar. Ternyata Pak Karmin nggak pakai CD, memang orang di kampung jarang yang pakai CD. Ibuku langsung terbelalak melihat penis yang begitu panjang dan besar. Aku juga sedikit kaget melihat penis sebesar itu. Akbar dan Pak Sharif kalah. Ibuku langsung mengjilati kepala penis itu pelan seperti makan es krim. Pak Karmin menggelinjang kegelian, mungkin belum pernah kontolnya di hisap istrinya. Kepala penis Pak Karmin jadi sasaran empuk hisapan Ibuku yang mulai memasukkan penis Pak Karmin ke mulutnya. Pak Karmin mendesis. Tangannya memegang kepala ibuku dan meremas rambutnya.

Ibuku berdiri dihadapan Pak Karmin, meraih tangannya dan meletakkan di dada Ibuku. Pak Karmin mulai aktif dan melepas baju daster yang dipakai ibuku. Melepaskan ikatan di pundak hingga jatuh ke bawah dan nampaklah dihadapannya Ibuku Cuma memakai CD dan Bra berwarna putih. Tangan ibuku masih berada di penis Pak Karmin. Lalu ibuku membuka kaos yang dipakai Pak Karmin hingga terlihat dadanya yang bidang dan hitam. Ibuku terlihat semakin bernafsu. Lalau melepaskan training yang dipakai Pak Karmin hingga dia telanjang bulat. Pak Karmin menunduk dan mencumbui tetek Ibuku yang masih terbalut Bra. Ibuku mengocok kontol Pak Karmin. Mereka berpagutan mesra, suara cipokan bibir mereka terdengar. “Mmhh..” Tangan Pak Karmin meraba punggung Ibuku dan melepaskan kansing Branya. Lalu dia meremas payudara Ibuku pelan, menunduk dan mengecupnya. Lidahnya menjilati puting tetek Ibuku yang muali mengerang dan menggelinjang. Tangannya terus mengelus kontol. Pak Karmin makin liar, mencumbu terus payudara ibuku, menggigit dan menjilat. Ibuku mendorong tubuh Pak Karmin duduk di sofa.

Pak Karmin mengangkangkan kakinya, ibuku berlutu dihadapannya dan mulai menjilati kontol Pak Karmin yang tegak berdiri, hitam dan menantang. Ibuku menjilati dari bagian buah peler, lalu menuju ke atas, ke arah kepala penis, disana dia memasukkan kepala kontol ke mulutnya dan memainkan dengan lidah di dalam mulut. Pak Karmin menggelinjang hebat. “Ohhss..” Tangan Ibuku mencengkeram penis itu dan menjilatinya lagi dari setiap sudut. Pak Karmin menggelinjang. Ibuku memasukkan semua penis ke multunya dan mengocoknya pelan, maju mundur. “Ohh.. Buu.. teruss.. Bu.. enakk.. hh..” Ibuku makin liar dan mengocok penis Pak Karmin sambil mengulum buah pelernya. Pak Karmin menggelinjang lalu menjerit tertahan. Spremanya muncrat ke sekitar perut dan wajah Ibuku. Ibuku menjilati sperma itu sampai bersih. Pak Karmin terduduk lemas di sofa. Ibuku bangkit ke dapur mengambil air minum dan memberikannya pada Pak Karmin.

“Gimana, Min?” “Terima kasih Bu, nikmat sekali. Saya baru tahu cara begitu.” “Istrimu nggak pernah mengisap kontolmu?” “Nggak pernah Bu, kami kalo ngentot aku yang di atas dan dia di bawah, udah. Pernah sih bu, aku nonton film porno trus melihat gaya-gaya ngentot, tapi waktu kupraktekkan sama istriku dia nggak suka.” “Kampungan istrimu. Makanya sering-sering ke sini, Min, kalo Bapak nggak ada.” Ibuku duduk di samping Pak Karmin yang masih lemas telanjang. Lalu memasukkan tangannya ke vaginanya sendiri yang masih terbalut CD. Dia mencoba masturbasi di depan Pak Kamrin dan mencoba merangsangnya lagi. Pak Karmin tidak lama langsung konak lagi, penisnya mulai ngaceng lagi. Lalu dia berdiri, meraih kaki Ibuku dan melepaskan CD putih Ibuku. Lalu dia berlutut di hapan vagina Ibuku yang mengangkang. Pelan dia menjilati vagina Ibuku. “Bu, memek Ibu harum ya.” “Ya, karena dirawat, Min. terus jilatin, Min.” Pak Karmin menjilati sekitar vagina Ibuku, lalu menjilati klirotisnya pelan. Menusuk-nuskkan lidahnya ke vagina Ibuku yang asyik merem-melek dan menggelinjang pelan. “Teruss, minn..enak minn..” erang Ibuku membuat Pak Karmin makin semangat.

Tangannya juga Ikut memainkan klirotis Ibuku sementara lidahnya menjilati sekitar vagina. Pak Karmin berlutut dan mengarahkan penisnya ke vagina Ibuku. “Masukkan, Min, kontolmu itu.” “Iya, Bu.” Pak Karmin menekan kontolnya pelan-pelan karena ibuku sepertinya takut juga dengan ukuran kontolnya Pak Karmin. Tubuh Pak Karmin condong ke depan dan tangannya bersandar pada sofa tempat Ibuku mengangkang. Ibuku membantu mengarahkan penis Pak Karmin ke lubang vaginanya. Begitu kepalanya masuk, Pak Karmin mengocoknya pelan sebatas kepala yang masuk. Sesekali mereka mengulum bibir dan menjilati lidah. Lalu Pak Karmin menekan sedikit lagi penisnya, Ibuku memegang bahu Pak Karmin dan menggigit bibirnya. Pak Karmin kembali mengocok penisnya di vagina Ibuku setengah batang penisnya masuk.

Ibuku mengerang-erang. “Teruss Min.. teruss..” “Nggak sakit Bu?” “Nggak min, enakk.. genjot terus kontolmu itu Min.” “Iya Bu.” Pak Karmin menggenjot lagi kontolnya hingga masuk nyaris ke pangkalnya, ibuku menekan perut Pak Karmin karena kontolnya terlalu menekan ke liang vaginanya. “Kontolmu panjang sekali Min.” kata Ibuku. Pak Karmin langsung menekan sema penisnya ke lubang vagina Ibuku membuat dia menjerit tertahan. Pak Karmin lalu menciumi payudara Ibuku mencoba menenangkannya. Setelah ibuku tenang, kembali dia menggenjot penisnya pelan. Ibuku sepertinya mulai terbiasa. Muali bisa menikmati kontol Pak Karmin yang ukuran jumbo itu. Pak Karmin melepaskan penisnya, menaikkan kaki Ibuku ke atas dan memegangnya diatas. Lalu kembali Ibuku menuntu kontol itu masuk ke vaginanya. Pak Karmin kemabli mengocok pelan, seirama. “Teruss.. Minn.. entotin teruss, memekku gatall.. teruss Minn, makin kencang Minn..”. Pak Karmin semakin mempercepat kocokannya membuat Ibuku menggelinjang hebat dan menjerit-jerit tertahan. Lalu Pak Karmin menyuruh Ibuku menungging di lantai. Pelan dia memasukkan penisnya ke vagina ibuku lewat belakag. Ibuku menumpu pada sofa.

Pak Karmin mengangkat pantat ibuku sedikit naik hingga dia bisa berdiri lalu mulai mengocok dari belakang dengan memegang pantat ibuku. Tubuh mereka bergerak perlahan seiring dengan desahan tertahan dan erangan. Pak Karmin melepaskan penisnya dan gantian duduk di sofa. Ibuku dianikkan ke atas pahanya. Penis menancap perlahan, setelah dalam Ibuku mulai menggejot dari atas tubuh Pak Karmin. “Ohh.. Min.. enak sekali kontolmu Min..” “Iya Buu.. memek Ibu juga enak, kayak perawan.” “Itu karena kontolmu gede Min, makanya nggak muat.” “Terus genjot Bu.. enakk..” “Iya.. Min.. sshh..” Ibuku semkin kencang menggejot pantatnya di tubuh Pak Karmin yang meremas punggung dan menjilati payudaranya. Kocokan mereka semakin kencang dan akhirnya kedua orang itu berpelukan erat waktu orgasme. Mereka berkuluman bibir pelan. Lalu Pak Karmin mengangakat tubuh Ibuku dan membaringkannya di kapet di lantai. Mereka terbaring bersampingan dengan lemas. Pak Karmin menopang kepalanya dan menoleh ke arah Ibuku. “Terima kasih ya Bu, atas kesempatannya.” “Sama-sama Min, sering-sering ke sini, kalo Bapak nggak ada, ya” “Beres bu. Saya pamit pulang dulu Bu.” “Mandi dulu, sana.” “Nanti aja di rumah Bu, nanti nggak ada lagi angkutan ke desa” Lalu ibuku beranjak dengan telanjang ke kamar sementara Pak Karmin memakai pakaiannya. Ibuku keluar dengan handuk melilit tubuh. “Nih, untuk ongkos.

Salam untuk istrimu ya, Min.” “Makasih ya Bu.” Pak Karmin langsung pergi berbalik ke pintu, Ibuku mengikuti dari belakang. Sebelum pintu terbuka, Ibuku memeluk Pak Karmin lagi dari belakang dan meremas selangkangannya. Pak Karmin berbalik dan kembali mencium ibuku, lalu dia pergi. Seminggu kemudian ada arisan ibu-ibu di rumahku. Ibuku memanggil beberpa anak perempuan tetangga kami untuk membantu memasak dan membersihkan rumah. Termasuk Ririn, cewek yang pernah ngentot dengan adikku dan pernah juga kukerjai walaupun belum sempat kuentot. Aku nonton VCD BF di kamarku di komputer. Pintu kukunci dan kegiatan di luar sama sekali tak kuhiraukan. Menjelang malam, semua tamu sudah pulang.

Aku turun dan mendapati Ibuku tengah berbincang di beranda belakang menghadap ke kebun buah. Ririn dan dua temannya sedang bersih-bersih. Aku pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, Ririn malu-malu menawariku makan, aku mengiyakan dan dia menyediakan makanan di meja. Temannya masih bebenah di ruang tamu. Selesai makan aku dengar Ririn pamit pulang dengan temannya. Ibuku pindah ke ruang nonton TV dengan seorang temannya, Bu Kristine, seorang janda yang jadi teman akrab Ibuku. Aku bergabung dengan mereka, tapi sepertinya mereka malah terganggu dan beranjak ke kamar Ibuku. Aku penasaran dan pergi ke samping kamar Ibuku dan menguping percakapan mereka dari luar jendela. “Gimana jeng, kau masih sering maen sama si Akbar itu nggak?”, tanya Bu Kristine pada Ibuku. “Masih dong Jeng, dia kan hot, masih muda dan kontolnya itu lho”, mereka cekikian berdua. “Kemaren aku ngentot sama Sarif, oh Jeng, enak banget lho, kontolnya sama dengan Akbar lho, sayang aku nggak bisa bayar si Akbar itu” “Lah, aku juga baru maen sama Sarif seminggu lalu di ladangnya, istrinya kan sedang pergi” “Kalau aku di rumahku Jeng, jadi lebih leluasa. Puas banget aku.” – Cersex Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Mesum Terbaru